Jumat, 21 November 2008
Olahraga - PON XVII
  BERITA
  INDEKS BERITA
18/07/2008 09:47
Pembajakan Atlet di Balik Sukses Kaltim

INILAH.COM,Samarinda - Kalimantan Timur menuai sukses besar di bidang prestasi dengan menempati posisi ketiga perolehan medali pada PON XVII, yang berakhir Kamis (17/7). Sang tuan rumah menganggap sukses tersebut monumental, karena sebelumnya Kaltim yang hanya mematok target lima besar.

Hasil tersebut merupakan sebuah lompatan besar karena pada PON Sumsel 2004 lalu, Kaltim hanya menduduki peringkat sembilan dari target tujuh besar. Sementara itu Jawa Timur memastikan diri sebagai juara umum dengan raihan 139 emas, 113 perak dan 111 perunggu.

Sukses sepakbola melengkapi prestasi Jatim untuk tampil sebagai juara umum. DKI yang kehilangan mahkota juara umumnya, harus puas di peringkat kedua (119 emas, 117 perak dan 122 perunggu), diikuti tuan rumah Kaltim (116 emas, 111 perak dan 114 perunggu).

Namun, di tengah sukses Kaltim dalam menggapai keberhasilan di bidang prestasi itu, memang ada suara-suara miring yang mengatakan bahwa keberhasilan itu tidak terlepas 'pembajakan' atlet oleh tuan rumah. Tapi Benarkah demikian?

Plh. Ketua Umum KONI Kaltim, Zuhdi Yahya dengan tegas membantah hal itu, meskipun ia juga mengakui bahwa mutasi atlet termasuk salah satu faktor sukses Kaltim menembus tiga besar.

"Memang benar mutasi atlet ada pengaruhnya tapi tidak dominan karena masih banyak faktor lain yang membuat Kaltim bisa melampaui target lima besar," kata Zuhdi.

Ia juga tidak menampik bahwa Kaltim memang "membeli" atlet luar, namun jumlahnya hanya sekitar lima persen dari 1.000 total atlet yang masuk Puslatda (Pemusatan Latihan Daerah) di Stadion Sempaja Samarinda.

Berdasarkan data KONI Kaltim, atlet transfer itu berjumlah 50 orang dari berbagai daerah di Indonesia. Dari 50 atlet tersebut hanya sebagian yang benar-benar berpotensi emas dilihat dari data PON sebelumnya, termasuk Kejurnas.

"Target kita dari atlet transfer itu, bisa menyumbang emas sekitar 25-30 medali karena atlet transfer lainnya adalah lapis kedua dengan prestasi perak," katanya.

Selain itu, Zuhdi menuturkan bahwa sebagian atlet transfer itu sebenarnya adalah putra-putri Kaltim yang sekolah atau kuliah di daerah lain, khususnya di Jakarta, Surabaya dan Semarang.

"Pertimbangan kita mengutamakan atlet asal Kaltim yang berdomisili di luar daerah untuk memberikan kesempatan mereka berbakti bagi tempat kelahirannya, memiliki rasa militansi serta memang untuk mengantisipasi tuningan kita banyak membeli atlet luar," katanya.

Satu Atap

Tudingan itu juga dibantah oleh Alfon T Lung, pelatih taekwondo Kaltim yang juga "pembawa obor" PON XVII-2008. "Contohnya cabang taekwondo, kita menjadi juara umum dengan lima emas. Atlet transfer hanya satu orang, sedangkan yang menyumbang empat emas adalah atlet lokal," kata mantan atlet nasional yang langganan emas pada beberapa PON itu.

Bagi mereka yang mengikuti perkembangan olahraga Kaltim, mungkin tidak akan kaget dengan prestasi itu, terutama sejak ditetapkannya Kaltim sebagai penyelenggara rumah PON pada 8 Juli 2002, sesuai persetujuan dari Presiden Megawati yang kemudian diikuti dengan SK KONI Pusat No. 52 Tahun 2002 tanggal 8 Juli 2002.

Johannes Karsan, salah seorang konsultan prestasi KONI Kaltim pada PON XVII-2008 menyatakan, pencapaian prestasi yang melampaui target lima besar tidak mengejutkan apabila melihat kesiapan Kaltim selama ini.

KONI Kaltim sejak awal memiliki optimistis besar pada PON 2008 karena berdasarkan data dan "analisa historikal", baik level PON 2004, kejurnas, event terbuka, SEA Games 2007 Thailand, serta pertandingan persahabatan dengan Malaysia pada Sukan II di Serawak 2007 lalu.

Berdasarkan hitungan semula, maka Kaltim minimal harus merebut 45 medali emas pada PON 2008 dari 43 cabang olahraga agar bisa menembus peringkat lima besar.

Berdasarkan data prestasi dalam beberapa PON terakhir, ekskalasi perolehan medali juga terus memperlihatkan trend meningkat. Misalnya, pada PON 2000 di Jawa Timur, Kaltim meraih 19 medali emas, sedangkan pada PON Palembang, meningkat menjadi 30 medali emas, sehingga target 45 emas sebenarnya tidak terlalu muluk.

Berdasarkan hasil dari berbagai cabang di kejurnas junior 2005, Kaltim memperoleh 45 emas dan kejurnas senior 2006 dengan 79 emas. Bahkan untuk beberapa cabang, Kaltim sempat menjadi juara umum, seperti angkat berat dan gulat, meskipun hasil di kejurnas anggar di Samarinda, beberapa waktu hasilnya sangat mengecewakan.

Pada ajang lebih bergengsi seperti SEA Games, atlet Kaltim juga ikut berjasa mengharumkan nama bangsa dengan enam emas dari angkat berat dan balap sepeda. "Jadi emas Kaltim tidak dominan dari atlet transfer namun karena beberapa cabang yang kita anggap bukan andalan menyumbang medali, ternyata bisa memberikan kontribusi melebihi target," kata Zuhdi.

Misalnya, gulat yang semula hanya mencanangkan 10 emas, ternyata bisa meraih 14 emas hal itu karena gulat wanita dan kelas 45 kilogram dipertandingkan.[*/S1]

Tags : pon xvii, kaltim

BERITA TERKAIT
load in : 0.008200169 "

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com