BERITA
INDEKS BERITA
![]() | |
(inilah.com/bayu suta) |
INILAH.COM, Jakarta - PT Toyota Astra Motor (TAM) pekan ini baru saja menyerahkan satu unit mobil Toyota Prius hybrid kepada Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. Melalui sosialisasi yang akan disampaikan Wapres kepada masyarakat, tidak lama lagi Indonesia bisa menghadirkan mobil-mobil yang ramah lingkungan.
Penyerahan Prius dilakukan secara simbolik berupa pemberian miniatur mobil Toyota Prius Hybrid dari Presiden Direktur TAM Johnny Darmawan kepada Wapres Jusuf Kalla. Hadir juga Executive Vice President Toyota Motor Corporation Akio Toyoda, CEO PT Astra International Michael D. Ruslim, dan President Direktur PT TMIN Hidematsu Ibaragi bertepatan dengan peresmian pabrik suku cadang New Toyota Spare Part Center (NTSPC) Kamis (4/9) di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat.
“Saya atas nama pemerintah RI berterima kasih kepada Toyota atas hibah mobil Prius ini. Semoga mobil ini nanti bisa disosialisasikan kepada masyarakat,” ujar Jusuf Kalla.
Wapres kemudian diajak melihat sosok Prius Hybrid yang sudah disiapkan di halaman NTSPC. Bahkan Kalla berkesempatan masuk ke kabin Prius, memegang kemudi sambil mendengarkan penjelasan tentang cara kerja mesin hybrid.
Toyota Prius Hybrid ini sangat ramah lingkungan dan irit konsumsi bahan bakarnya. Prius yang diserahkan kepada Wapres, sebagaimana dijelaskan Johnny, telah menjalani berbagai uji coba diantaranya menempuh perjalanan Jakarta–Surabaya tanpa menemui kendala.
Johnny Darmawan menegaskan penyerahan satu unit Prius merupakan bukti bahwa Toyota tidak selalu mengejar angka penjualan saja. Lebih dari itu, dengan pemberian tersebut pihaknya ingin Indonesia tidak ketinggalan dibanding negara-negara lain yang sudah lebih dulu menghadirkan mobil-mobil ramah lingkungan.
"Kami berharap kehadiran mobil ramah lingkungan kelak bisa membantu memperbaiki kualitas udara, khususnya di wilayah perkotaan seperti Jakarta. Juga membantu kebijakan efisiensi penggunaan bahan bakar," kata Johnny.
Dengan semangat melestarikan lingkungan dan menghemat bahan bakar, Toyota ingin mengajak masyarakat beralih ke mobil hybrid. Namun tanpa dukungan pemerintah berupa kemudahan bea masuk, mustahil masyarakat akan menggunakan mobil hybrid karena harga mobil ramah lingkungan ini terbilang mahal untuk ukuran kebanyakan masyarakat Indonesia.
Pemerintah sendiri sebetulnya sudah memberikan lampu hijau bagi pembeli mobil hybrid. Menristek Kusmayanto baru-baru ini menyatakan, hybrid adalah teknologi baru. Selain masih mahal, insentifnya pun masih digodok pemerintah. "Kami masih memperjuangkan agar pemerintah bersedia memberikan insentif," tukasnya kepada INILAH.COM.
Teknologi hybrid, bagi Kusmayanto, bukan hal baru. Pada 2006, PT Honda Prospect Motor telah menyerahkan satu unit Civic Hybrid kepada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai unit riset untuk edukasi dan pengembangan teknologi hibrid di Indonesia.
Dari hasil pengembangan selama ini, Kusmayanto memberi gambaran bahwa untuk mengajak masyarakat membeli mobil hybrid, pemerintah harus menyiapkan kompensasi berupa pajak yang jauh lebih ringan dibandingkan pajak bagi mobil konvensional.
Pajak itu, menurut Kusmayanto, bisa diterapkan sewaktu masyarakat membeli atau ketika membayar pajak tahunan. "Misalnya, harga mobil konvensional Rp 200 juta, jika pakai hybrid bisa Rp 250 juta. Nah, selisih Rp 50 juta itu bisa dibebaskan sehingga harganya minimal jadi sama," jelasnya.
Kusmayanto menjelaskan, penerapan pajak untuk mobil hybrid ini juga berkaitan dengan Depkeu. Katanya, Depkeu pasti menginginkan pendapatan tinggi dari pajak. Karena itu, ia menyatakan pihaknya akan berusaha meyakinkan Depkeu bahwa pemberian insentif bagi kendaraan ramah lingkungan perlu untuk mendukung upaya mengurangi emisi gas karbon dan penghematan BBM,
Ketika didesak realisasi penerapan insentif pajak itu, Kusmayanto berjanji akan mengupayakan secepatnya. "Saya usahakan secepatnya. Soal ini sudah saya proses sejak dua tahun lalu," tukasnya. Berhasilkah Kusmayanto? [I4]
[ Kirim ke teman ]