Rabu, 10 Februari 2010
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI : 1 Euro = Rp.12841.4
 
Pemilu 2009
 
09/10/2008 - 15:14
Sultan Capres 'Malu-Malu Kucing'
R Ferdian Andi R
Sri Sultan
(inilah.com/Abdul Rauf)

INILAH.COM, Jakarta – Cukup banyak organisasi yang mendukung Sri Sultan Hamengkubuwono X maju dalam Pilpres 2009. Tapi, 'Raja Yogyakarta' itu belum juga menentukan sikap tegas. Dia seperti pengantin Jawa yang malu-malu kucing.

Di tengah hiruk-pikuk situasi politik di DI Yogyakarta terkait Rancangan UU Keistimewaan (RUUK), Sultan terus menari di pentas politik nasional. Dia mencoba mencuri perhatian menjelang Pemili 2009. Hanya, beda dengan tokoh lain yang cenderung mematut diri, Sultan lebih banyak 'bergerak diam'.

Bahkan, hingga kini pun tak jelas apakah Sultan maju atau tidak dalam Pilpres 2009. Soal ini, dia selalu memberikan jawaban yang justru memunculkan pertanyaan lain. Sultan tak ubahnya pengantin dari Jawa yang pemalu.

Juga, saat dia hadir dalam acara halal bihalal di kediaman Ketua Dewan Pembina SOKSI, Suhardiman, Rabu (8/10) malam. Sultan juga didaulat untuk maju dalam Pilpres 2009 mendatang.

Bagaimana sikap Sultan? Dia hanya menyampaikan terima kasih. "Kepercayaan ini ada konsekuensinya. Saya harap SOKSI ikut membantu harapan saya, kita harus mampu mengubah strategi masa depan," tutur Sultan.

Sultan menyebut tawaran tersebut bukan persoalan siap atau tidak siap. Lebih dari itu, dia merasa perlu ada perenungan. Dia pun mengaku harus rendah hati menyipakinya.

Sultan tampaknya menjalankan betul prinsip masyarakat Jawa. Nglurug tanpa bala, sugih ora nyimpen, sekti tanpa maguru, lan menang tanpa ngasorake (perang tanpa kawan, kaya tanpa menyimpan, sakti tanpa berguru, dan menang tanpa merendahkan). Dia menyikapi namanya yang disebut dalam bursa capres/cawapres dalam setahun terakhir dengan kalem.

Sikap ini sangat erat dengan posisi politik Sultan saat ini yang masih menjabat Gubernur DIY. Sebagai kepala daerah, dia menjadi bagian dari pemerintahan SBY-JK yang diyakini bakal maju kembali dalam Pilpres 2009. Ini terkait dengan etika atau fatsoen politik yang dipegang Sultan.

Namun, Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS), Sukardi Rinakit melihat apa yang terjadi di diri Sultan adalah penerapan dari filosofi kekuasaan untuk mengabdi. "Saya melihat apa yang terjadi di Sultan saat ini adalah penerapan kekuasaan untuk mengabdi," tegasnya kepada INILAH.COM, Kamis (9/10) di Jakarta.

Menurut dia, posisi sebagai raja membuat latar belakang kultur Sultan kontrak dengan kandidat lainnya. "Sultan bukan malu-malu. Dia memahami hakikat kekuasaan yang tidak bisa dikejar-kejar, kecuali ada dukungan publik," jelasnya.

Dalam kajian Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) tentang bobot calon presiden 2009-2014, nama Sultan menempati urutan teratas dengan skor 6,20. Di bawahnya menyusul Akbar Tandjung dengan skor 6,01 dan SBY dengan 6,00.

Tokoh-tokoh lain menyusul di belakang. Megawati Soekarnoputri di urutan keempat (4,95), Jusuf Kalla (4,94), Rizal Mallarangeng (4,72), Sutiyoso (4,18), Gus Dur (3,83), Wiranto (3,17), Prabowo Subianto (2,72), Sutrisno Bachir (2,50), dan Yusril Ihza Mahendra (2,40).

Dalam kajian itu, Sultan dinilai memiliki komitmen pluralitas yang tinggi dengan skor 7,58 dibanding SBY yang hanya 6,75. Sultan juga memiliki responsivennes dengan skor 7.00, sedangkan SBY dinilai mempunyai integritas politik, HAM dan Korupsi tinggi 7,17

Dorongan SOKSI kepada Sultan untuk melenggang dalam Pilpres 2009 mendatang seperti memecah kebekuan di internal Partai Golkar, tempat Sultan berpolitik selama ini. Meski Partai Golkar akan memunculkan capres/cawapres pasca Pemilu legislatif April mendatang, diapungkannya Sultan oleh SOKSI seakan menjadi pra-kondisi menjelang Rapimnas IV Partai Golkar pada 17-20 Oktober ini. [I4]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau akses mobile langsung http://M.inilah.com via ponsel dan Blackberry !