Rabu, 3 Desember 2008
Wawancara - Politik
  WAWANCARA
  INDEKS WAWANCARA
19/08/2008 09:41
“Masa Depan PKB Terancam”
Bima Aria Sugiharto
M Husni Nanang & Ferdian
 
Bima Aria Sugiharto 

INILAH.COM, Jakarta - Konflik PKB masih saja belum menemukan titik aman. Hingga kini, format islah dan upaya rekonsiliasi tengah berlangsung. Masa depan PKB pun terancam. Basis massa dan citra partai pun menjadi pertaruhan.

Meski sebelumnya diberitakan antara dua kubu telah siap untuk islah, namun hingga kini proses itu tak kunjung tiba. Persoalan komunikasi antar dua kubu diyakini menjadi penyebabnya. Bahkan komunikasi di internal pun juga tak berlangsung baik.

Menurut pengamat politik dari Universitas Paramadina Bima Aria Sugiharto, sulit bagi PKB untuk mendapatkan suara maksimal dalam Pemilu 2009 jika format islah hingga kini belum disepakati.

"Sulit bagi publik untuk menitipkan suaranya ke PKB, jika tidak bisa menyelesaikan masalahnya," tegasnya kepada INILAH.COM, Senin (18/8) di Jakarta. Berikut wawancara lengkapnya.

Bagaimana prospek PKB ke depan?

Saat ini memang segala sesuatu ditentukan bagaimana Gus Dur bisa menerima format-format islah yang dikembangkan Effendi Choiri dan kawan-kawan. Sejauh persoalan ini bisa diterima Gus Dur, saya kira tidak ada masalah, namun saya lihat beliau masih berbeda pendapat dalam teknis islah ini.

Karena ada perkembangan baru lagi bahwa Effendi kemudian dicoret lagi dari caleg. Berarti ada problem komunikasi yang belum selesai, bahkan di dalam kubu Gus Dur sendiri.

Kalau saya lihat ke depan, PKB akan berat untuk bisa konsolidasi dalam waktu cepat, karena kuncinya hanya ditetukan oleh, bagaimana Gus Dur mampu untuk membangun komunikasi dan secara legawa mendukung kepemimpinan Muhaimin Iskandar.

Bagaimana kalau ini tetap berlangsung?

Setidaknya ada dua masalah yang sudah menunggu, yakni basis massa yang terpengaruh dan citra partai. Kalau dari segi basis massa mungkin tidak terpengaruh, karena PKB sudah punya captive.

Tapi yang sudah damage atau luntur atau terkoyak adalah citra PKB secara nasional. Saya kira yang kedua ini yang sulit untuk diperbaiki jika Gus Dur dan Muhaimin masih terus menerus tidak menyepakati format islah. Ke depannya saya kira sangat sulit PKB akan meningkatkan perolehan suaranya

Bagaimana kalau Muhaimin tetap maju tanpa Gus Dur?

Saya kira mungkin agak berkurang suaranya karena bagaimanapun Gus Dur punya pendukungnya dan ada caleg-caleg di kubu Gus Dur tidak diakomodir. Tapi bukan itu perhatian saya, perhatian saya pada citra publik bahwa PKB sendiri tidak bisa menyelesaikan konflik.

Jadi bukan masalah massanya Gus Dur yang mendukung atau tidak, tapi dengan Gus Dur tidak mendukung Muhaimin itu berarti PKB tidak bisa menyelesaikan konflik internal. Bagaimana mungkin publik bisa percaya pada suatu partai yang akan mengelola negara, karena dia sendiri tidak bisa menyelesaikan konflik internal. [E1]

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com