WAWANCARA
INDEKS WAWANCARA
![]() | |
| Fadel Muhammad (inilah.com/Abdul Rauf) |
INILAH.COM, Jakarta – Fadel Muhammad gagal jadi calon legislatif dari Partai Golkar. Dia kecewa. Tapi, dia akan tetap loyal terhadap Partai Beringin. Hanya, dia meminta peristiwa ini ke depannya tak terulang kembali. Golkar harus terus belajar.
Wajar jika Fadel kecewa. Dia sudah mulai mengurus pengunduran dirinya sebagai Gubernur Gorontalo. Untung, prosesnya di DPRD belum selesai. Artinya, dia masih bisa menyelesaikan tugasnya di daerah yang dipimpinnya.
Bagaimana perasaan Fadel sesungguhnya? Bersediakah dia berkampanye untuk Partai Golkar? Berikut petikan wawancara dengannya seusai Sidang Paripurna DPD di Jakarta, Jumat (22/8).
Anda dicoret dari caleg Golkar. Bagaimana tanggapan Anda?
Sudah lama saya mengurus itu. Sudah lebih tiga bulan. Semua fraksi DPRD Provinsi Gorontalo mendukung pencalonan saya. Saya sudah ketemu dengan Ketua Umum (Partai Golkar). Dua kali saya bicara resmi akan hal itu. Yang ketiga di Jakarta.
Semua mengatakan bisa. Makanya, saya urus semua prosesnya. Tiba-tiba, pada 18 Agustus, saya mendengar tidak diizinkan. Saya kecewa berat. DPP punya sikap yang tidak jelas dan tidak mendengar aspirasi daerah. Saya mungkin akan tetap jadi Gubernur saja.
Waktu itu (saya) sudah mengirimkan surat pengunduran diri. Saya kirim ke DPRD. DPRD sudah mengirimkan semacam persetujuan. Tapi belum diproses. Masih menunggu saya dapat caleg apa tidak. Makanya, DPRD dan sebagian besar masyarakat Gorontalo kecewa. Tapi seperti yang saya katakan, saya tetap berada di Partai Golkar. Saya tidak punya niat pindah ke partai yang lain.
Mungkin Anda dinilai kurang memenuhi persyaratan sebagai caleg?
Saya kira tidak tepat. Ketika di Gorontalo saya ini Ketua I. Dua periode saya jadi pengurus harian di DPP Partai Golkar. Jadi saya tidak pernah mendengar seorang pemimpin ketika anak buahnya ada masalah seperti itu. Saya kira kita harus mengoreksi agar ke depan tidak terulang kejadian seperti ini
Sikap Anda bagaimana?
Saya ingin mengatakan, saya menerima dan tunduk kepada partai. Tapi, ada kebijakan-kebijakan yang harus kita lihat. Bila ada anak buah yang mempunyai kebijakan yang lain, tidak perlu kita mengusir orang tersebut dengan bahasa-bahasa yang kasar. Itu kan tidak
tepat
Apakah karena Anda disebut-sebut ingin ikut bersaing dengan JK di Pemilu 2009?
Saya tidak tahu. Saya kira tidak demikianlah. Untuk jadi caleg saja dicoret, apalagi mau ke sana. Itu jauh benar.
Apa ada konspirasi politik karena Anda disebut-sebut dekat dengan Akbar Tanjung?
Akbar mengatakan di media massa bahwa ada konspirasi politik sehingga nama saya tidak diizinkan. Mungkin ada benarnya. Dia seorang pengamat yang baik. Mungkin karena beliau tahu hal tersebut. Tapi saya tidak tahu.
Seberapa dekat Anda dengan Akbar Tanjung?
Mungkin saja saya dekat dengan Akbar. Waktu beliau ketua umum, saya sebagai pengurus harian. Ini juga yang menjadikan dasar pemikiran saya. Hanya tiga orang lho orang Golkar yang menjadi gubernur. Selain itu, saya memberi kontribusi terbesar dari seluruh kader Golkar memenangkan Pilkada di Gorontalo. Sejumlah 80% lebih. Ini harusnya diapresiasi pimpinan pusat.
Anda sakit hati dengan hal ini?
Saya tidak sakit hati. Saya hadapi masalah ini dengan tenang. Saya tidak akan lompat pagar. Saya akan bersabar dalam pagar. Itulah saya.
Anda masih akan mendukung dan berkampanye untuk Golkar?
Saya akan berkampanye untuk Partai Golkar. Saya akan berjuang untuk memenangkan Golkar di Gorontalo.
Apakah ini bukan tindakan yang munafik?
Tidak! Saya setia terhadap Partai Golkar. Tapi, memang saya kecewa dengan oknum-oknum pimpinan Partai Golkar. Saya ini politisi senior. Saya mengerti hal ini. Saya sudah bergembira, sudah pernah sedih, sudah pernah kecewa. Semuanya saya hadapi dengan tenang. Saya tekankan sekali lagi, saya akan tetap loyal kepada Golkar. Mungkin saya akan tanam jagung lagi, pelihara ikan lagi, dan rumput laut. Akan kami jadikan hebat di Gorontalo. [I4]
[ Kirim ke teman ]