Rabu, 3 Desember 2008
Wawancara - Politik
  WAWANCARA
  INDEKS WAWANCARA
31/08/2008 00:05
"Demokrasi Terancam Artiskrasi"
J Kristiadi
R Ferdian Andi R

INILAH.COM, Jakarta – Tampilnya kalangan selebritis dan kroni tokoh politik di bursa calon legislatif memantik kekhawatiran yang mendalam. Bukan persoalan profesi atau asal muasal mereka yang mendapat gugatan, melainkan kinerja mereka yang hanya bermodal popularitas itu di parlemen kelak.

Dalam pandangan pengamat politik dari CSIS, J Kristiadi, muculnya artis dan kroni para elit untuk menduduki di caleg dalam Pemilu 2009 adalah fenomena artiskrasi dan dinastikrasi. “Negeri ini akan menjadi artiskrasi dan dinastikrasi,” tandasnya kepada INILAH.COM, di Jakarta.

Apa maksud pernyataan pengamat yang gemar memakai baju batik tersebut? Apa pula implikasi dari artiskrasi dan dinastikrasi dalam konteks demokrasi yang diperjuangan sejak satu dekade lalu? Berikut ini wawancara lengkapnya:

Bagaimana peluang munculnya pemimpin alternatif dalam Pemilu 2009 mendatang?

Sebetulnya selama satu dekade ini rakyat belajar memilih pemimpinnya sendiri. Namun, hingga saat ini rakyat masih belum menemukan alternatif. Dalam memilih memimpinnya sendiri, memang ada reduksi rakyat itu dilakukan oleh lembaga yang bernama partai politik. Implikasinya, bertebaran caleg atau tokoh yang tidak dikenal oleh masyarakat.

Oleh karenanya saat ini bisa saja mencari pemimpin daerah yang berhasil dan mempunyai bukti dan jejak rekam. Saya kira itu bisa dijadikan alternatif. Yang harus dikhawatirkan, alternatifnya muncul oleh orang yang tidak mengerti soal pemerintahan.

Bukankah partai politik belum membuka diri atas kehadiran tokoh alternatif?

Oleh karena itu jika partai politik tidak membuka diri, makanya jangan hanya diimbau atau diharap, tapi bagaimana dalam kekuatan domain publik ini dijadikan kekuatan untuk mengubah partai politik. Karena kalau hanya diimbau, ya tidak bisa. Kekuatan harus mendesak terus dan bekerjasama dengan elemen-elemen partai politik yang berfikrian maju.

Hingga kini partai politik belum berubah karena adanya artiskrasi dan dinastikrasi ini menjadi bukti nyata bahwa peluang munculnya tokoh alternatif itu sangat kecil?

Iya, tapi kan ada dinamika politik. Konkretnya kalau di Partai Golkar misalnya, apakah tidak ada tekanan yang begitu besar kepada JK agar melakukan konvensi? Karena dianggap perolehan pilkada selama ini Golkar banyak kedodoran. Artinya, peluang konvensi masih sangat terbuka.

Misalnya dalam rapimnas besok, benar-benar rapimnas atau malah menyoalkan munaslub? Itu semua bisa terjadi. Kalau tidak di-manage maka akan bisa menjadi bola liar juga.

Kenapa muncul fenomena artiskrasi dan dinastikrasi dalam Pemilu 2009 ini?

Ya karena adanya ologarkhi partai politik. Ini harus dibongkar dengan melakukan reformasi. Bagaimana cara mereformasinya, harua ada kekuatan luar yang terus mendesak dengan kerjasama dengan kekuatan di dalam.

Apa implikasinya atas fenomena tersebut?

Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh caleg dari anak politisi maupun caleg dari artis. Kita tidak pernah tahu bagaimana kiprah mereka, terlebih untuk menyelesaikan persoalan yang kini terjadi.

Bagaimana dengan figur Fadel Muhammad sendiri?

Sebagai gubernur, ia berhasil. Ada berbagai macam yang ia capai. Artinya ada selling point yang ia miliki dengan apresiasi dari lembaga yang kredibel. Saya kira ada di diri Fadel Muhammad, kenapa tidak dicoba saja? [P1]

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com