WAWANCARA
INDEKS WAWANCARA
INILAH.COM, Jakarta – Pertarungan antarpartai politik maupun elit politik kini makin panas, meski Pemilu 2009 baru akan digelar sembilan bulan lagi. Bentuk pertarungan itu pun beragam. Mulai dari perang iklan hingga saling tunjuk hidung.
Namun, dalam sebuah penelitian lembaga survei terungkap bahwa hanya ada dua kandidat presiden terkuat, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono dan, Megawati Soekarnoputri, yang bakal bertarung sengit dalam Pemilu 2009. Tidak sekadar itu, pertarungan keduanya telah terfragmentasi pada distribusi pemilih yang berbeda di antara keduanya.
Menurut pengamat politik dari Universitas Indonesia, Andrinof Chaniago, PDIP dan Megawati lebih berpeluang dibandingkan parpol dan tokoh lainnya. “Sayangnya, PDIP sampai kini belum memberikan konsep, karena masih mengedepankan sosok Mega sebagai simbol wong cilik,” tegasnya kepada INILAH.COM, Senin (1/9) di Jakarta.
Apa yang sebenarnya ditawarkan PDIP dan Megawati kepada konstituennya? Berikut ini wawancara lengkap INILAH.COM dengan Andrinof:
Bagaimana Anda melihat calon presiden yang kini sudah bermunculan?
Tahun 2009 mendatang tokoh yang muncul adalah tokoh yang memang memiliki bukti prestasi selama ini. Sedangkan bagi mereka yang hanya popular namun tingkat prestasinya tidak menonjol maka masyarakat tidak akan mudah menentukan pilihannya.
Nama yang muncul sekarang ini adalah nama yang maksimum yang ada di masyarakat, dan dari beberapa tokoh itu sudah memberikan bukti kerja selama ini. Sisanya masih belum kelihatan bukti nyata kerja mereka,dan baru sebatas beriklan.
Apa pentingnya posisi calon wakil presiden dalam mendongkrak perolehan suara seorang capres?
Dalam merangkul pemilih, banyak faktor yang bisa dijual mulai dari simbol-simbol dan sebagainya. Tetapi simbol-simbol tersebut tidak cukup hanya diwakilkan kepada satu pasangan calon pemimpin nasional.
Bagaimana dengan gagasan penyebutan susunan kabinet dalam Pilpres 2009?
Selama ini komposisi seperti itu belum ada, padahal hal tersebut sangat penting. Begitu juga dengan susunan kabinet, harus diisi oleh orang yang memiliki kemampuan masing-masing dan bisa dikombinasikan. Selama ini pasangan presiden dan wakil presiden hanya bergantung pada sosok presiden, sedangkan wakil presidennya hanya menjadi pelengkap saja.
Seharusnya ini saling mengisi dan saling mewakili dengan kemampuan yang dimiliki masing-masing. Capres yang akan datang selain menjelaskan calon pasangannya juga harus menyampaikan susunan kabinetnya kepada masyarakat dari segi kriteria orang, program kongkret kepada para calon pemilih. Jika itu tidak dilakukan, maka masyarakat hanya akan diberikan mimpi-mimpi semata.
Apa sebenarnya yang dibutuhkan masyarakat dari seorang pemimpin?
Masyarakat mengharapkan pemimpin yang adil, jujur, profesional, mampu membuat perencanaan, memimpin kabinet, menjalankan tugas, dan berwawasan luas.
Popularitas SBY saat ini merosot, tapi dalam beberapa survei nama SBY masih menduduki urutan penting. Bagaimana Anda menanggapinya?
Persoalan kita adalah langka pemimpin calon, meski SBY merosot tetapi pesaingnya belum bisa menjanjikan akan memberi yang lebih baik. Hal inilah yang menjadi masalah. Pilihan yang ada sekarang sangat terbatas.
Dalam survei terungkap pemilih Megawati didominasi oleh pemilih pemula, apakah ini indikasi PDIP sukses dalam menggarap pemilih pemula?
Kalau dilihat data lain, selain pengangguran ada juga pemilihnya juga muncul dari kalangan pelajar maupun mahasiswa menjelang lulus. Itu bisa kita artikan, yang muda-muda berharap dapat jawaban konkret atas kebutuhan mereka, yaitu selesai pendidikan dan langsung bekerja. Sementara saat ini, mereka menghadapi sulitnya mendapatkan pekerjaan, makanya mereka berharap ada perubahan.
Kenapa di kelompok menengan relatif lebih dominan di SBY?
Kelompok menengah lebih realistis dengan keadaan saat ini. Kelompok ini bisa memahami masalah yang ada saat ini. Sedangkan kelompok bawah tidak memiliki pilihan yang banyak, mereka hanya berpikir bagaimana mendapat pekerjaan. Mereka tidak peduli ada faktor ekonomi global, harga minyak dunia, dan lain-lain.
Bagaimana seharusnya parpol atau capres (PDIP/Mega) menyikapi kecenderungan konstituennya yang berasal dari kalangan pengangguran?
Parpol harus memberikan banyak penjelasan tentang kebijakan yang akan dilakukan dan apa persoalan bangsa yang ada serta solusi yang harus dilakukan. Sayangnya, PDIP sampai saat ini belum memberikan konsep, karena masih mengedepankan sosok Mega sebagai simbol wong cilik. Sebab PDIP memiliki peluang untuk meraih dukungan masyarakat di tengah dukungan masyarakat kepada SBY-JK yang mulai turun. [P1]
[ Kirim ke teman ]