Rabu, 3 Desember 2008
Politik - Internasional
  BERITA
  INDEKS BERITA
06/09/2008 18:01
Diplomasi di Lapangan Hijau
Zulfirman
 
Abdullah Gul
(arrahmah.info)
 

INILAH.COM, Ankara – Tak lama. Bisa jadi, tak lebih dari enam jam, Presiden Turki, Abdullah Gul berada di Yerevan, Armenia. Tapi, waktu sempit itu menghadirkan sejarah baru dalam hubungan kedua negara. Diplomasi yang dibangun melalui lapangan hijau.

Hampir sebulan lamanya undangan itu berada di Istana Kepresidenan Turki. Undangan itu berasal dai Serge Sarkisian, Presiden Armenia. Isinya, Sarkisian mengundang Gul datang ke Yerevan, menyaksikan pertandingan sepak bola, Armenia-Turki di babak kualifikasi Piala Dunia 2010. Inilah pertama kalinya pemimpin Turki berkunjung ke Armenia dalam setengah abad terakhir.

Tak heran, dalam sepekan terakhir, diplomat dan pejabat keamanan Turki sudah berada di Yerevan. Mereka melakukan finalisiasi persiapan. “Kunjungan menyaksikan pertandingan ini bisa menciptakan iklim persahabatan baru di regional ini. Itu yang ada dalam pikiran presiden saat menerima undangan ini,” ujar pernyataan resmi Kepresidenan Turki.

Gul dan delegasi Turki, tiba di Yerevan, dua jam sebelum pertandingan dimulai. Mereka dijemput pejabat Kementerian Luar Negeri Armenia di bandara Edward Nalbandyan, langsung menuju Palaco of President, Istana Presiden Sarkisyan.

Gul sudah menyiapkan oleh-oleh buat Sarkisyan. Dia akan menyerahkan karpet sutra. Tapi, pemberian yang lebih besar, tentu adalah kesiapan kedua kepala negara melakukan pembicaraan untuk mengatasi hubungan diplomasi yang buruk antara kedua negara.

Turki termasuk negara pertama yang mengakui kemerdekaan Armenia ketika melepaskan diri dari Uni Soviet pada 1991. Tapi, Turki tak mau membuka hubungan diplomatik. Alasannya, Armenia terus saja mengkampanyekan bahwa tewasnya warga sipil Armenia dalam perang 1915-17 adalah sebuah genosida.

Pihak Armenia menyatakan sedikitnya 1,5 juta orang tewas dalam pembunuhan berencana pada Perang Dunia I. Saat itu, Kekaisaran Ottoman menguasai Armenia sebelum jatuh pada 1920.

Turki membantah teori genosida itu. Mereka menyebutkan warga Armenia yang tewas sekitar 250 ribu hingga 500 ribu jiwa. Angka itu setidaknya setara dengan warga Turki yang tewas dalam perang itu, saat Armenia mencoba memerdekakan diri dari kekuasaan Anatolia dengan bantuan tentara Rusia.

Armenia mungkin merasa di atas angin. Sekitar 20 negara mengakui peristiwa itu sebagai genosida. Parlemen Eropa mengakuinya pada 1987. Prancis menjadi negara besar Eropa pertama yang secara terbuka mengakui genosida di Armenia, tak tak secara eksplisit menyalahkan Turki.

Turki sebenarnya berniat mencari kebenaran. Itu sebabnya, PM Recep Tayyip Erdogan pada 2005, mengajukan proposal membentuk komisi gabungan. Komisi ini antara lain dijejali sejarawan yang akan melakukan investigasi dan mempublikasikan kesimpulan mereka. Sayangnya, proposal ini ditolak Yerevan.

Belakangan, Yerevan mulai melunak. Apalagi, situasi penuh ketegangan di wilayah Kaukasus, mencuat menyusul konflik Georgia dan Rusia, bulan lalu. Maka, Sarkisian pun menyambut proposal Turki untuk membentuk forum baru di wilayah Kaukasus.

“Armenia selalu menyambut seluruh upaya langsung memperkuat kepercayaan, stabilitas, dan keamanan, dan itu mempererat kerja sama di wilayah ini,” ujar Sakisian saat bertemu utusan khusus Gul, Unal Cevikoz.

Armenia memang termasuk yang berada dalam posisi sulit setelah konflik Georgia-Rusia. “Pelabuhan Poti di bawah kekuasaan usia dan perbatasan Turki ditutup. Jadi, Armenia berada di tangan Rusia dan Iran. Mereka ingin perbatasan Turki dibuka kembali,” ujar Cengiz Aktar, pengamat hubungan internasional Turki.

Tapi, laksana sebuah lawatan politik, tak semua pihak suka dengan pertemuan ini. Kalangan oposisi dan militan nasionalis Turki, tak suka dengan langkah politik Gul. “Saya lebih memilih pergi ke Baku menyaksikan pertandingan dan bukan ke Yerevan,” ujar Deniz Baykal, salah seorang petinggi oposisi. Pernyataan Baykal tentu merujuk ke Azerbaijan, sahabat dekat Turki.

Pun, di Yerevan. Partai Dashnaktsutyun yang beraliran nasionalis menyatakan aktivisnya akan hadir di bandara saat Gul sampai. Mereka pun akan datang ke stadion. Target mereka di kedua tempat itu sama; melancarkan protes menuntut Turki mengakui tuduhan terjadinya genosida.

Di tengah protes itu, barangkali, Gul dan Sarkisian akan menyaksikan pertandingan sepak bola antara Armenia dan Turki. Seusai pertandingan, mereka akan berpisah sambil memikirkan langkah politik berikutnya. [I4]

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com