BERITA
INDEKS BERITA
![]() | |
| Adhyaksa Dault |
INILAH.COM, Jakarta – Wajah lama masih mendominasi kandidat calon presiden pada Pemilu 2009. Padahal, desakan munculnya angkatan muda sebagai pemimpin alternatif, tak kalah gencarnya. Tokoh lama dianggap sudah tak memiliki imajinasi.
Kajian The Media Institute dan PSIK Universitas Paramadina menyingkap sosok muda bisa jadi alternatif dalam Pemilu dan Pilpres 2009. Itu jika mereka ditunjang kualitas, kredibilitas, kapasitas yang terukur dan didukung popularitas, serta elektabilitas.
Selama ini, tak ada sosok muda yang betul-betul mencorong menuju 2009. Sosok senior seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Wiranto, Jusuf Kalla, Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subiyanto, Sri Sultan Hamengkubuwono X masih mendominasi wacana publik.
Sejarah Indonesia membuktikan, jika ingin tercapai sebuah perubahan, selain persoalan sistemik, struktural dan budaya, peran aktor manusia adalah faktor utama yang turut menentukan. Lihatlah Soekarno-Hatta-Sjahrir-Natsir, sosok muda dan aktor perubahan di masa kemerdekaan.
“Pada Pilpres 2009, sosok muda harus berani maju, minimal sebagai cawapres. Ada prospek dan harapan jika ia memiliki gagasan pembaruan, visi-misi keadilan sosial, dan perubahan,” kata Yudi Latif, mantan Deputi Rektor Universitas Paramadina.
Siapa yang siap? Survei Reform Institute dan berbagai lembaga riset menyebutkan, Adhyaksa Dault merupakan sosok muda yang memiliki popularitas dan elektabilitas lebih tinggi dibandingkan sosok-sosok muda lainnya. Dia dianggap lebih memenuhi syarat itu ketimbang Sutrisno Bachir, Pramono Anung Wibowo, Yenny Wahid, Puan Maharani, Rizal Mallarangeng, bahkan Hidayat Nur Wahid sekalipun.
Adhyaksa mengakui yang dibutuhkan saat ini adalah aktor untuk perubahan. Dan tokoh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menyerukan agar kaum muda menyiapkan gagasan dan platform untuk membangun hari depan Indonesia.
“Apa keinginan dan harapan rakyat Indonesia, harus bisa dibaca oleh kaum muda. Prinsip saya, tahta untuk rakyat adalah yang utama. Jangan sampai kaum muda miskin imajinasi dan gagasan serta kecakapan untuk membangun hari depan Indonesia. Kaum muda jangan hanya ingin jadi anggota parlemen atau meraih kuasa belaka tanpa agenda yang memihak rakyat dan membebaskan rakyat dari kemiskinan dan kebodohan,’’ katanya.
Sejarah beragam peradaban mencatat kegemilangan maupun kehancuran suatu bangsa ditentukan karakter para pemimpinnya. “Dalam sudut pandang ini, tidaklah salah jika inti dari problem yang menghadang bangsa Indonesia, sejatinya terkait dengan persoalan krisis kepemimpinan,” kata Bima Arya Sugiarto, Direktur LEAD Institute Universitas Paramadina.
Krisis itu, tentu, tak bisa dilepaskan dari orde sebelumnya. Kepemimpinan otoriter Orde Demokrasi Terpimpin dan Orde Baru selama hampir empat dekade, menyumbat secara sistematis alur regenerasi kepemimpinan nasional. Otoritarianisme itu juga mengikis potensi kepemimpinan di segala lini dan lapisan.
Tidaklah mengherankan, pada periode awal era reformasi, fenomena kehancuran sistemik kepemimpinan dan terbatasnya individu-individu yang cakap. Kepemimpinan di awal reformasi lebih menampilkan model kepemimpinan kharismatis. Padahal, gaya tersebut sejatinya rawan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power).
Direktur Lingkaran Madani untuk Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti, menegaskan bahwa para pemimpin senior umumnya miskin imajinasi dan kurang revolusioner secara gagasan. “Imajinasi tokoh-tokoh lama yang muncul pada Pemilu 2009 sudah mati. Seharusnya yang pantas memimpin Indonesia adalah anak muda," tegas Ray.
Harapan untuk memperbaiki kondisi negara dengan sekelumit permasalahannya ini kandas jika pemimpin berikutnya tidak punya daya imajinasi. Indonesia pun tidak akan berubah. Sebab, yang bisa mengubah adalah imajinasi radikal.
Kini terpulang pada kesiapan kaum muda untuk menyiapkan diri sebagai kekuatan alternatif dalam prosesi kepemimpinan ke depan. Angkatan muda harus bergerak dan bekerja. Jadi, bukan menunggu jatuhnya mahkota bagi tahta. [I4]
[ Kirim ke teman ]