BERITA
INDEKS BERITA
![]() | |
| Asif Ali Zardari (ist) |
INILAH.COM, Jakarta - Duda mantan PM Pakistan, Benazir Bhutto, Asif Ali Zardari resmi memenangkan pemilihan umum yang digelar Sabtu (6/9), sesuai keputusan Komisi Pemilihan Umum Pakistan. Kemenangan Zardari seperti telah diduga sebelumnya.
“Sebuah kemenangan bersejarah. Kemenangan bagi demokrasi,” ujar Sherry Rehman, Menteri Penerangan Pakistan yang juga pendukung utama Benazir Bhutto. Zardari kini menjadi pemimpin Partai Rakyat Pakistan (PPP) yang sebelumnya dipimpin Benazir.
“Pria ini menderita lebih dari 11 tahun dalam penjara karena mengguncang demokrasi, dan hari ini dia terpilih sebagai presiden dari negeri ini. Sebuah sinyal semakin kuatnya demokrasi,” ujar Rehman. Zardari dijebloskan atas tuduhan korupsi. Tuduhan yang kemudian menimbulkan julukan Mr Ten Percent (100%) bagi Zardari yang dikenal luas di dalam dan di luar Pakistan.
Zardari memastikan meraih 281 suara dari 426 suara di parlemen nasional. Dia juga meraih kemenangan telak di tiga dari empat parlemen provinsi yang juga memberikan suara bagi terpilihnya seorang Presiden Pakistan. Total suara yang diraih sebanyak 458 dari 702 suara anggota parlemen.
Seperti dilansir AFP, Zardari sempat mengikat kekuatan dengan mantan Perdana Menteri Pakistan, Nawaz Sharif. Kekuatan oposisi itu tak bertahan lama dan pecah, usai kabar pengunduran diri Pervez Musharraf.
Zardari tetap merupakan sosok yang kontroversial di Pakistan, setelah melewatkan 11 tahun di penjara atas tuduhan korupsi dan pembunuhan serta hidup dalam pengasingan. Zardari mengatakan, apa yang telah diraihnya merupakan kemenangan bagi demokrasi di Pakistan.
Presiden dipilih melalui pemungutan suara di kalangan anggota majelis parlemen Pakistan dan majelis dari empat provinsi Zardari memperoleh lebih dari dua-pertiga dari 700 suara dalam pemilihan itu.
Zardari terlempar ke dalam panggung politik utama setelah pembunuhan atas istrinya, Benazir Bhutto, Desember tahun lalu. Saat itu Bhutto menjabat Ketua Partai Rakyat Pakistan PPP.
Dalam beberapa bulan belakangan, Zardari memperlihatkan kemampuannya dalam membangun koalisi dan menggunakan kekuatan untuk menjatuhkan Presiden Pervez Musharraf.
Istrinya, Benazir Bhutto memberikan tiga anak, Bilawal, Bakhtwar, dan Aseefa. Zardari yang tak dikenal sebelum masuk dalam Dinasti Bhutto tak menghendaki dia dan anaknya bernasib sama seperti istrinya.
Selama beberapa tahun belakangan ia dibayang-bayangi dengan tuduhan korupsi besar walau tidak pernah terbukti bersalah di pengadilan. Sementara itu mantan Perdana Menteri Nawaz Sharif telah menarik partainya PML-N dari pemerintahan koalisi karena menuduh Zardari melanggar janji utamanya.
Banyak warga Pakistan yang kuatir negara mereka akan kembali terjerumus ke dalam konfrontasi politik. Padahal Pakistan saat ini amat membutuhkan stabilitas politik untuk mendukung pembangunan ekonomi dan melawan kelompok Islam radikal.
Zardari dinilai sebagai pemimpin pro Barat yang mendukung pernyataan Washington dalam perang melawan teror. Sebagai presiden, Zardari harus menyeimbangkan tuntutan Amerika Serikat dengan kekuatan militer Pakistan dan sentimen anti Amerika di kalangan warga.
Presiden Pervez Musharraf dianggap gagal dalam menyeimbangkan kekuatan yang ada di negaranya, namun mendapat pujian dari pemerintah Amerika Serikat dalam ketegasan melawan kelompok Islam radikal. Di sisi lain memancing aksi kekerasan oleh kelompok Islam yang menentang posisi Pervez Musharraf yang dianggap terlalu pro Barat.
Zardari kini menghadapi sejumlah tantangan sebagai presiden negara berpenduduk 172 juta jiwa ini. Selain kekerasan, situasi ekonomi dengan inflasi yang tinggi juga harus diatasi. Pasar saham Pakistan merosot 40% sejak Januari dan negara itu masih sulit terlepas dari bantuan luar negeri, terutama AS. [E1]
[ Kirim ke teman ]