Sabtu, 20 Maret 2010
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI : 1 Euro = Rp.12429.6
 
Politik
 
04/07/2009 - 21:51
Ahmadinejad Cari Kambing Hitam
Vina Ramitha
Mahmoud Ahmadinejad
(yahoo.com)

INILAH.COM, Teheran – Iran tampaknya tak akan pernah tenang. Setelah memenangkan pilpres kedua melalui penghitungan suara ulang, pemerintahan Ahmadinejad terus mencari kambing hitam di balik kekacauan negara mereka. Setelah Inggris, kini giliran Amerika jadi sasaran.

“Seharusnya ada yang mempertanyakan, apa aksi yang dilakukan Mousavi itu diperintahkan oleh otoritas Amerika,” ungkap seorang asisten pemimpin tertinggi Iran, Hossein Shariatmadari, dalam editorial suratkabar Kayhan, Sabtu (4/7).

Menurut Shariatmadari, mantan Perdana Menteri Mir Hossen Mousavi berusaha melepaskan diri dari hukuman atas pembunuhan rakyat tak berdosa, yaitu saat mereka berunjuk rasa demi dirinya. Rival terberat Ahmadinejad dalam pilpres ini pun dituding bekerja sama dengan asing dan berperan sebagai agen AS ketika bergerak di dalam negeri ini. “Mousavi seharusnya mendapat persidangan,” ujarnya.

Pilpres 12 Juni yang digelar untuk memilih presiden baru Iran, berujung pada kerusuhan. Kemenangan presiden incumbent Mahmoud Ahmadinejad dengan perolehan suara 62,63% disinyalir curang dan dianggap tidak mewakili keinginan rakyat Iran secara keseluruhan.

Pendukung Mousavi pun berontak dan melakukan unjuk rasa. Inilah pertama kalinya capres oposisi Mousavi dituding sebagai salah satu agen AS yang melakukan kejahatan melawan negara.

Sementara Ahmadinejad tak henti-hentinya menuding kekuatan Barat berada di balik semua protes penentangan hasil pesta demokrasi itu. Sang presiden merasa mendapatkan keuntungan dari posisinya yang mendapat dukungan dari pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Kecaman dari kubu Ahmadinejad ini membuat kalangan internasional menilainya dengan cara berbeda. Terlihat dari sambutan Presiden Rusia Dmitry Medvedev saat keduanya bertemu di Shanghai Cooperation Organization beberapa waktu lalu. Medvedev tak melanjutkan pertemuan itu ke sesi yang lebih pribadi, seperti saat ia menemui pemimpin Pakistan dan Afghanistan.

Di Belarusia, Presiden Alexander Lukashenko juga tak meluangkan waktu untuk Presiden Iran ini dan mengutus ketua parlemen negara tersebut. Hal serupa terlihat di Timur Tengah yang sejak lama mengkhawatirkan ambisi Iran. Otoritas Jordania menarik izin dua organisasi Iran pekan ini dan Sultan Oman dikabarkan membatalkan perjalanan ke Teheran karena kerusuhan paska pilpres.

Berbagai reaksi negatif dalam dunia diplomatik memang jarang terlihat. Namun selama Ahmadinejad masih di pucuk pimpinan dan mendapatkan dukungan dari Khamenei, kekhawatiran itu akan terus bermunculan. Apalagi setelah penghitungan ulang, Ahmadinejad masih dinyatakan sebagai pemenang pilpres.

“Pemimpin Eropa mulai merasa tak aman dengan pilpres Iran. Mereka tak yakin bagaimana harus menyikapi rezim ini, sebab semua ingin menghindari pemboman yang mungkin akan didalangi Iran,” ungkap mantan Menlu Prancis, Hubert Vedrine. “Hal ini tak hanya dialami Barat atau Arab saja, melainkan seluruh komunitas internasional.”

Sejak memimpin, Ahmadinejad kerap menyampaikan berbagai komentar bernada anti-Israel di hampir setiap kesempatan. Pihak Barat mulai berangsur kehilangan simpati terhadap Iran, apalagi sikap antipati negara tersebut terhadap penyelidik PBB, dengan menolak klarifikasi atas aktivitas nuklir mereka.

Tak hanya itu. Iran juga memblokir akses wartawan asing dan mengusir beberapa jurnalis media internasional. Kasus teranyar adalah pengusiran dua diplomat Inggris yang dituding melakukan aktivitas nondiplomatik atau mendukung unjuk rasa antipemerintah.

Di masa mendatang, hubungan Iran dengan dunia akan bergantung kepada kestabilan rezim itu untuk memulihkan diri dari separatis yang saat ini nyata terlihat. Jika mereka sukses memulihkan hawa perpecahan itu, maka ada kemungkinan besar hubungan mereka dengan dunia akan kembali seperti semula sebelum pilpres digelar.

Meski demikian, masih diragukan apakah Ahmadinejad bakal menyambut baik tawaran Presiden AS Barack Obama untuk mengadakan diskusi bersama atau mempererat hubungan diplomatik dengan para sekutu anti-AS seperti Venezuela dan Rusia. [E2/P1]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau akses mobile langsung http://M.inilah.com via ponsel dan Blackberry !