Rabu, 3 Desember 2008
Selamat Pagi Indonesia -
  BERITA
  INDEKS BERITA
29/08/2008 00:01
Kemarahan Presiden

SEMAKIN sering saja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memarahi pejabat yang tidak memberi perhatian sewajarnya ketika dia berbicara. Kemarin, dalam rapat kabinet, SBY berteriak meminta tiga pejabat – yang sedang ayik ngobrol – agar mendengar apa yang sedang dia bicarakan. Kemarahan itu menjadi berita bagus televisi, sehingga diulang-ulang dengan durasi panjang.

Ini adalah kemarahan Presiden yang kedua kali terhadap pejabat yang tidak menghiraukan kehadiran dan pembicaraannya. Yang pertama adalah ketika dia menunjuk seorang bupati yang tertidur pulas, ketika dia berpidato dalam sebuah kuliah di Lemhannas. Kemarahan itu pen menjadi berita bagus bagi televisi.

Ada dua implikasi dari kemarahan seorang presiden terhadap para pejabat yang menjadi bawahannya. Pertama adalah publik memperoleh kesan bahwa presiden seorang yang keras, berani, dan berdisiplin.

Tetapi ada implikasi kedua yang tidak bisa dicegah. Yaitu, semakin sering presiden memarahi pejabat yang nota bene adalah anak buahnya karena tidak memedulikan kehadiran dan pembicaraannya, semakin terkuak degradasi kewibawaan presiden sendiri. Publik memperoleh kesan, kok presiden semakin tidak dihargai sehingga marah-marah.

Dari sisi komunikasi politik kemarahan yang terlalu sering dan terbuka adalah tidak baik bagi citra dan kewibawaan seorang presiden.

Seyogyanya, memang, ketika seorang presiden hadir dan berbicara, dia memperoleh seluruh kepatutan, formal maupun informal, dari hadirin. Seperti bertepuk tangan, berdiri ketika presiden memasuki dan meninggalkan ruangan, serta menyimak tanpa berkedip apa yang dibicarakan.

Tetapi kondisi ideal seperti ini sulit diperoleh, bahkan di negara dengan sistem represif sekalipun. Ada saja ketidakpatutan yang terjadi mengiringi kehadiran seorang presiden. Misalnya, publik yang mencaci-maki karena dipaksa terjebak dalam kemacetan di jalan raya hanya karena menunggiu iringan rombongan presiden berlalu.

Karena itu seorang presiden memang perlu menggunakan secara amat selektif kesempatan untuk marah dan tidak marah. Marah yang berlebihan tidak baik, tetapi sabar berlebihan juga tidak elok bagi wibawa dan kredibilitas.

Akhirnya kepatutanlah yang harus dipegang dengan arif. Memarahi secara patut dan pada kesempatan yang patut. Dan bersabarlah dengan patut dan pada kesempatan yang patut pula.

Presiden pasti memiliki indra dan instrumen yang memantau fluktuasi kredibilitas dan kewibawaan. Bila terlalu sering para pejabat asyik sendiri bercengkerama ketika presiden berbicara, sebaiknya tidak disemprot pada saat itu. Karena mereka yang disemprot adalah pajabat tinggi, sedangkan yang menyemprot juga pejabat tinggi. Keduanya bisa menderita kemerosotan kewibawaan.

Agar sama-sama enak, presiden sebaiknya memanggil ketiga pejabat itu setelah sidang usai. Dalam ruang tertutup, boleh bersama-sama atau empat mata, para pejabat itu diberi teguran keras. Kalau perlu ditampar tanpa publikasi.

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com