BERITA
INDEKS BERITA
WAKIL Presiden Jusuf Kalla pernah menyebutkan nilai kontrak penjualan gas alam cair (LNG) Tangguh ke China tidak mampu membiayai program eksplorasi sumber gas baru. Pasalnya, harga kontraknya terlalu murah. Kita harus melakukan koreksi kasus ini.
Presiden Yudhoyono meminta agar kasus ini diusut secara transparan. Tidak ada akal-akalan. Presiden di dalam pidatonya terucap sangat jelas bahwa pihaknya memberikan dukungan sepenuhnya dan membuka lebar-lebar penelitian serta lebih transparan atas kasus ini.
Dalam masalah LNG Tangguh, pemerintah di era kepresidenan Megawati, telah menunjuk British Petroleum (BP), untuk melakukan penjualan gas milik negara tersebut. Namun penjualan gas ini terbilang sangat murah sehingga mengakibatkan potensi kerugian negara yang luar biasa, sekitar Rp 700 triliun.
Untuk melakukan negosiasi ulang kontrak jual LNG Tangguh ke China itu telah dibentuk Komite Renegoisasi Ulang yang diketuai Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati. Namun sebaiknya tim ini tidak melibatkan pihak-pihak yang terlibat dalam proses penjualan kontrak LNG Tangguh kepada kontraktor China sebelumnya.
Terutama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Purnomo Yusgiantoro. Tujuannya agar tidak terjadi conflict of interest di Kabinet Indonesia Bersatu.
Belajar dari kasus gas Tangguh, di masa depan kita butuh para teknokrat yang memiliki kemampuan futuristik dalam melihat kebutuhan energi hari depan. Sehingga memiliki kapasitas melakukan proyeksi mengenai penjualan sumber energi ke pasar global dengan patokan harga yang tidak berpotensi merugikan.
Kasus Tangguh tak perlu dipolemikkan, melainkan dipecahkan dengan renegosiasi RI dan RRC agar kita tak dirugikan. Dalam hal ini, Wapres Jusuf Kalla dan Presiden SBY sudah sepakat merundingkan kembali harga penjualan gas Tangguh itu ke China, untuk kepentingan nasional.
Jangan sampai kita sebagai produsen gas Tangguh malah merugi karena produknya di jual murah ke luar negeri sementara kebutuhan di dalam negeri terus mengalami kekuarngan. Ingat bahwa kita pasti tak ingin seperti peribahasa tikus mati di lumbung padi karena kelemahan kita sendiri.
[ Kirim ke teman ]