Minggu, 21 Maret 2010
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI : 1 Euro = Rp.12429.6
 
Selamat Pagi Indonesia
 
01/07/2009 - 00:27
Pilpres Mustahil Satu Putaran

IKLAN "Setuju Satu Putaran Saja" dan Gerakan Satu Putaran (Gestapu) telah merusak citra pemilihan presiden sebagai proses demokrasi yang sehat dan sportif.

Gestapu yang digalang dan dilancarkan oleh LSI Denny JA dan kubu pasangan capres-cawapres Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, dinilai para analis politik sebagai usaha pembodohan publik.

Mereka beralasan, pemilu presiden sekali putaran dapat menghemat biaya sehingga efisiensi tercipta. Namun Gerakan Satu Putaran itu dinilai para analis sebagai sesuatu yang mustahil.

Terkesan hal ini pengebirian hak rakyat. Upaya ini adalah kumpulan omong kosong yang dilembagakan.

Saat ini pemerintahan telah mengalami demisioner secara faktual karena presiden dan wakil presiden turun ke jalan untuk berkampanye. Begitu pula para anggota kabinet menteri yang turut menjadi anggota tim sukses pasangan capres-cawapres.

Sejauh ini, popularitas tiga pasangan calon presiden dalam Pilpres 8 Juli 2009 berimbang dan masing-masing memiliki kesempatan sama untuk menjadi presiden. Para analis memprediksi Pilpres berlangsung dua putaran.

Pilpres tinggal beberapa hari lagi. Ketiga pasangan capres dan cawapres terus berjuang mendekati rakyat agar memilihnya pada hari pencoblosan 8 Juli. Posisi terkuat saat ini memang masih ditempati SBY–Boediono, diikuti Mega–Prabowo, dan JK–Wiranto. Namun selisih ketiganya sudah semakin mengecil. Sehingga semakin berat dan sulit bagi SBY–Boediono bisa menang dalam satu putaran saja.

Yang menjadi tanda tanya tentu saja hasil survei yang menjagokan SBY sampai lebih 70%. Kalau itu benar, maka pilpres nanti tentu berlangsung singkat, hanya satu putaran saja. Namun begitu, hasil survei seperti itu jelas tidak valid. Kesannya, pembuat survei sengaja dibayar dengan tujuan tertentu. Memang intelektual bayaran sudah menggurita di republik kita. Misalnya ada upaya memaksakan pilpres cukup satu putaran saja. Tak pelak lagi konsekuensi logisnya adalah menyinggung para politisi dan aktivis di kubu JK dan Mega. Wajar mereka tersinggung dan balas mengkritisi secara tajam survei yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan menduga survei itu tidak independen karena dibiayai Fox Indonesia (konsultan SBY-Boediono).

Kalau melihat debat capres yang berlangsung di televisi swasta, sepertinya tidak ada hal yang luar biasa dari ketiganya. Masing-masing memberikan paparan biasa. Tidak mampu masuk ke akar permasalahan bangsa, sehingga harapan pemirsa (rakyat) ketiga capres membeberkan substantif dari tema yang didebatkan sama sekali tidak muncul. Kesannya ketiga capres mencari aman saja. Tidak berani menyerang lawan dan takut diserang balik. Jalannya debat menjadi monoton, membosankan.

Kubu SBY–Boediono memang berkepentingan pilpres bisa berlangsung dalam satu putaran saja. Sebab, kalau sampai pilpres berlangsung dua putaran, dalam tenggat waktu dua bulan setelah putaran pertama, maka besar kemungkinan pasangan SBY–Boediono bisa mengalami kekalahan di putaran kedua, 8 September 2009. Sebab, kubu Mega dan JK bakal bergabung menghadapi kubu SBY. Hal inilah yang sudah diantisipasi oleh kubu SBY–Boediono.

Jauh sebelum KPU menetapkan tiga pasangan capres dan cawapres, antara kubu JK dengan kubu Mega sudah terjalin hubungan baik. Pertemuan tokoh Golkar dengan PDIP berlangsung cukup intens. Bahkan setelah JK berpasangan dengan Wiranto dan Mega mendapatkan Prabowo pun komunikasi politik di jajaran elit mereka tetap berjalan.

Andai saja pilpres dua putaran, maka kedua kubu dipastikan akan menyatu menghadapi kubu SBY–Boediono sehingga kans SBY mempertahankan jabatannya menjadi kecil.

Apalagi koalisi yang dibangun Partai Demokrat dengan 24 parpol pendukungnya penuh misteri.

Sangat disayangkan, koalisi yang dibangun Partai Demokrat tidak solid dan rapuh Terbukti, banyak elit politik dari PKS, PPP, PAN, PKB, PDS, PBB dll yang memble bukannya menyokong kemenangan SBY–Boediono, tetapi malahan menjadi tim sukses dan pendukung dua capres lainnya. Bisa dibilang koalisinya hanya di tataran elit parpol semata, namun di tataran bawah tidak kompak, terpecah.

Inilah yang meyakinkan kita bahwa pilpres bakal berjalan dua putaran karena kubu SBY sendiri lemah dan pecah. Publik kini menanti titah sejarah. [L1]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau akses mobile langsung http://M.inilah.com via ponsel dan Blackberry !