BERITA
INDEKS BERITA
INILAH.COM, Jakarta – Pemanfaatan storage tidak banyak berubah selama dua dekade terakhir ini, padahal kebutuhan bisnis sudah berkembang pesat sehingga pertumbuhan data menjadi semakin tak terkendali.
Menjawab tantangan ini, Hitachi Data System (HDS) memperkenalkan pendekatan Service Oriented Storage Solutions (SOSS).
“SSOS ini memusatkan semua storage data, dan layanan konten serta meringankan beban server aplikasi storage,” ujar Edwin Lim, Country Manager HDS Indonesia, Selasa (26/8), di Jakarta.
Dengan demikian, aplikasi storage bisa fokus memberikan layanan storage seperti pengarsipan, konsolidasi dan virtualisasi, termasuk pada infrastruktur storage lama.
Sebagai contoh, masih ada arsitektur yang memakai cache storage controller yang diperkenalkan dua dasawarsa lalu. Sehingga kegiatan bisnis terhambat akibat perusahaan yang menunggu ketersediaan storage. Pada akhirnya malah teknologi yang mendorong bisnis, bukan sebaliknya. Semuanya terhambat karena arsitektur storage terdiri dari pulau-pulau terpisah dan berbeda platform.
Sepuluh tahun lalu, muncul Storage Area Network (SAN) sebagai teknologi untuk meningkatkan utilisasi storage. Namun pada kenyataannya utilisasi masih saja rendah kendati kapasitas terus ditambah.
Menurut Strategic Research Corporation and Storage Networking Industry Association (SNIA), utilisasi sistem storage umumnya berkisar antara 20-30%. Sebanyak 22% data adalah data duplikat, bahkan 68% data tak pernah diakses selama 90 hari atau lebih.
“Jadi data yang tak terstruktur itu hampir 70% dari growth data,” lanjut Edwin.
Memang SAN berhasil membuat jaringan server terhubung dengan storage, namun malah menciptakan pulau-pulau storage. Akibatnya sistem provisi storage masih dilakukan terpisah dan data tidak bisa dipindahkan antar sistem storage. Berangkat dari permasalah inilah HDS mengembangkan eknologi SOSS.
Yakni virtualisasi melalui storage controller yang memiliki kemampuan menyediakan layanan storage dan data bersama untuk seluruh lingkungan storage yang heterogen, termasuk berbagai kebutuhan aplikasi.
Selain itu, juga tidak menambah kompleksitas atau latency, tidak terbatas koneksi SAN, aman dari hulu ke hilir, serta memungkinkan integrasi yang mulus dengan kemampuan baru di masa mendatang.
SSOS bukanlah utility storage ataupun storage as service. Dalam utility storage, kapasitas disalurkan semudah berlangganan listrik. Namun pelanggan dikunci sedemikian rupa melalui kontrak dari vendor sehingga menyulitkan merka merespon perubahan bisnis.
Sementara itu, storage as service yang sama seperti software as service (SaaS adalah layanyan solusi khusus seperti backup lewat internet maupun replikasi ke remote site.
Edwin juga menekankan, HDS ingin menggunakan aset storage lama ketimbang membuat lagi yang baru. SSOS memiliki kemampuan untuk mengagresi aset dtorage lama dan baru serta memanfaatkannya untuk menjalankan layanan storage sebagai satu kesatuan yang utuh.
“Sehingga penanganannya tidak lagi melalui pendekatan solusi storage yang terpisah,” tandas Edwin.[L2]
[ Kirim ke teman ]