Senin, 6 September 2010
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI : 1 US Dollar = Rp.9008
 
Teknologi
 
22/07/2009 - 19:21
Pemerintah Sulit Migrasi ke Linux

(istimewa)

INILAH.COM, Jakarta- Migrasi dari software berlisensi ke software open source di berbagai instansi pemerintah masih tersandung berbagai kendala. Instansi pemerintah di antaranya masih sulit mengubah kebiasaan menggunakan sistem operasi Microsoft.

"Dari target migrasi software pada September 2008 sampai Agustus 2009 sebanyak 486 unit personal computer (PC) di Depdiknas, baru 256 PC yang sudah bermigrasi," kata Kepala Pusat Teknologi Komunikasi (Pustekom) Depdiknas, Lilik Gani pada Seminar Nasional Pengguna Open Source Software dan IGOS Center di Jakarta, Rabu (22/7).

Diakuinya, sulit mengubah kebiasaan pengguna komputer yang sudah terbiasa memakai sistem operasi Microsoft Windows ke sistem yang lain. Misalnya saja berpindah ke Linux IGOS atau Ubuntu meski untuk mendapatkannya tak perlu membayar.

Kendala lainnya, kurangnya pemahaman mengenai open source, kesadaran tentang software legal, kompatibilitas data aplikasi, pendampingan sumber daya manusia yang terbatas. Termasuk belum ada helpdesk serta koordinasi antar unit yang kurang serta distro OS yang terlalu banyak.

Sementara itu, pengelola IT Depag, Achmad Gufron, juga mengakui berbagai hambatan tersebut sehingga dari sekitar 3.000 PC di Depag belum ada yang bermigrasi dari Microsoft ke OS.

"Kalau sistem operasi kan Windows sudah included ketika beli PC, tapi Office-nya kami menggunakan Microsoft Office yang trial hanya beberapa yang pakai legal," katanya.

Karena itu, lanjut dia, ke depan pihaknya akan turut mensosialisasikan penggunaan open source di semua PC di Depag agar ada penghematan uang negara. Saat ini, ada juga server di Depag yang telah menggunakan open source seperti server dari situs www.depag.go.id, ujarnya.

Sementara itu, Kepala IT PT Telkom, Indra Utoyo, mengatakan, sulit melakukan migrasi ke open source karena banyak yang fanatik pada Microsoft. Namun saat ini pihaknya sudah berhasil membuat 12 ribu PC bermigrasi ke open source.

"Tapi kami tidak fanatik juga pada open source, kami hanya fanatik pada solusi. Jadi ada beberapa pertimbangan untuk memilih apakah akan menggunakan software open source atau berlisensi," katanya.[*/ito]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau akses mobile langsung http://M.inilah.com via ponsel dan Blackberry !