Rabu, 3 Desember 2008
Wawancara - Gaya Hidup
  WAWANCARA
  INDEKS WAWANCARA
08/09/2008 04:45
"Bikin Lirik Lagu Berisi"
Taufik Ismail
Babyrock

INILAH.COM, Jakarta - Penyair Taufik Ismail selalu merindukan saat karya-karya puisi menjadi syair lagu indah dan dapat dinikmati khalayak ramai.

Ketika karya-karya mereka dimuat di koran-koran, misalnya, kata Taufik, cakupan mata yang membaca puisi-puisi itu tak seluas nilai ekspos lewat layar kaca, jika diangkat dalam sebuah lagu.

Saat ini, jika puisi dimuat di koran-koran, yang membacanya bisa puluhan ribu orang. Hebat betul seandainya bisa dibaca ratusan ribu orang. Tapi kalau puisi itu dinyanyikan dan tayang di televisi, pemirsanya bisa jadi berjuta-juta orang.

"Kenapa sudah jarang yang tidak kerja sama seperti ini?" ujar sastrawan kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat ini.

Mungkin karena alasan itulah, Taufik pun bersedia membuatkan lirik lagu bagi beberapa musisi atau grup musik di Indonesia. Sejak era 1970-an sampai sekarang, budayawan yang mempoluerkan sastra di kalangan pelajar itu banyak diminta membuat lagu.

"Saya hanya bikin liriknya, sedangkan lagu (musiknya), mereka yang buat," ungkapnya.

Tidak kurang grup seperti God Bless, Bimbo, GIGI pernah meminta Taufik untuk membuat lagu.

Ia menilai, masyarakat Indonesia sebenarnya rindu akan lirik-lirik lagu yang 'berisi', yang dipadupadankan dengan irama musik yang mampu menghanyutkan jiwa.

Untuk mengetahui kiprah Taufik Ismail di dunia lagu Tanah Air, INILAH.COM berbincang dengannya di sela jumpa pers konser Spirit of Ramadhan. Berikut petikannya:

Menurut Anda bagaimana sih lirik lagu yang baik itu?

Pokoknya, (lagu) dengan penyampaian kata-kata dan kalimat-kalimat yang baik. Kita kan sebenarnya punya banyak penyair andal sebenarnya bertebaran di negeri. Tapi belum muncul aja.

Menurut saya, sebuah lagu yang baik itu bisa melahirkan perenungan bagi orang yang mendengarkannya. Tidak sekadar asal lewat saja. Harus berisikan pesan-pesan yang bermanfaat untuk orang yang mendengarkannya.

Ada beda dengan membuat lirik puisi?

Sebenarnya tidak jauh beda. Tetapi, dalam membuat lagu ya tentu saya harus dengarkan musiknya, harus dipaskan dengan musiknya.

Namun, saya memang lebih senang kalau syair-syair yang saya ciptakan dilagukan. Menurut saya dampaknya lebih besar sehingga pesan yang terkandung di dalamnya tersampaikan secara lebih luas.

Kalau saya menulis, kemudian dimuat di koran atau majalah, mungkin yang baca hanya puluhan atau ratusan ribu orang. Tapi ketika dinyanyikan, lalu dipromosikan lewat TV, jutaan mungkin ratusan juta orang akan mendengarkan. Sudah saatnya karya sastrawan itu dinyanyikan.

Pengalaman menarik dalam membuatkan lagu untuk grup musik di Indonesia?

Kebiasaan para musisi jika meminta syair selalu dadakan dan tidak memberikan banyak waktu. Tapi, saya maklum karena itu pun atas tuntutan jadwal rekaman dan rilis album.

Bimbo atau GIGI, misalnya, pernah minta lagu, deadline cuma sehari. Ya, saya bingung, tetapi karena ingin menyampaikan pesan melalui lagu ya saya coba bikin. Alhamdulillah sih bisa juga.

Anda diajak terlibat dalam konser religi akbar bertajuk The Spirit of Ramadhan. Komentar anda tentang konser religi itu?

Konser semacam itu adalah yang saya nantikan sejak lama. Dulu, setiap Ramadan memang ada konser, namun tidak pernah sebesar kali ini dan melibatkan musisi dari tiga generasi. Ini penantian saya lama. Keinginan sejak abad 20 baru terwujud abad 21. [L1]

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com