Minggu, 21 Maret 2010
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI : 1 Euro = Rp.12429.6
 
Celah
 
30/01/2010 - 03:27
Nota Politik Terbuka Untuk Bapak Presiden (2)
Muchlis Hasyim
Presiden SBY
(istimewa)

Karena pekerjaan, memungkinkan bagi saya untuk mendapatkan, menyerap dan pada akhirnya menganalisis situasi terkini seputar masalah kenegaraan. Terutama implikasinya pada kepentingan publik.

3. Tentang Neo-liberalisme dan Nasionalisme

Sempat mengejutkan saat Menteri Keuangan Sri Mulyani menggiring opini bahwa Pansus Century adalah balas dendam (dalam tanda kutip, tentunya) Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie kepada Menkeu karena banyak kepentingan Bakrie yang terganjal.

Dalam banyak kesempatan, saya mencoba menelisik dan mengkonfirmasi, di mana dendam itu? Hasilnya, ini jadinya urusan emosional dan personal. Bukan urusan kenegaraan.

Begitu juga saat isu tunggakan pajak dari Bakrie yang sampai triliunan dimunculkan. Aneh juga. Yang saya tahu, saham Bakrie di BUMI (salah satunya) hanya 18 persen. Selebihnya, saham BUMI adalah saham sejuta ummat.

Jadi, kalau kemudian ada pajak yang ditunggak oleh Bakrie dalam angka triliunan, tentunya tidak semua angka itu yang akan dibayar: hanya 18 persen. Sisanya, milik sejuta ummat!

Nah, inilah yang kemudian makin menguatkan bahwa kasus Century ini bukan perseteruan Sri Mulyani-Bakrie. Lebih dari itu. Ini adalah perseteruan dua arus ideologi besar. Namanya Neo-Liberalisme dan Nasionalisme.

Bapak Presiden, yang saya hormati.

Dalam forum terbuka ini, saya gunakan hak sipil saya sebagai warga negara untuk menyatakan pandangan, bahwa:

a) Neo-Liberalisme bukan hanya jargon atau mahluk halus dalam konstalasi politik kita. Ini adalah gerakan nyata dalam bentuk keyakinan ideologis, serangkaian pemikiran dan sebuah kerja struktural dalam bidang ekonomi, dunia usaha dan seluruh rangkaian regulasi yang menyertainya. Dimana, kekuatan ada pada pemilik modal dalam permainan liberalisasi regulasi, yang tentu saja memenangkan mereka yang bisa bermain.

b) Nasionalisme, bukan hanya klaim ideologis kita, agar kita terlihat memihak pada Ibu Pertiwi. Bukan. Nasionalisme adalah serangkaian keyakinan bahwa anak-anak bangsa ini harus menjadi tuan di negerinya sendiri. Nasionalisme adalah serangkaian kerja yang harus kita lakukan untuk memajukan anak-anak negeri. Memberi kesempatan kerja. Memberi proteksi jika harus bersaing dengan lawan-lawan yang tak seimbang. Nasionalisme adalah pemihakan pada anak-anak negeri.

c) Bangsa ini tidak bisa mengisolasi diri dengan hubungan dan arus globalisasi. Tapi, penyerahan kedaulatan rakyat pada kepemimpinan nasional, adalah pertaruhan harapan seluruh rakyat bahwa para pemimpin di negeri ini akan menempatkan kepentingan seluruh anak negeri di atas kepentingan golongan atau misi-misi tertentu.

Bapak Presiden, yang terhormat.

Anak-anak negeri ini menyerahkan mandat kedaulatan kepada Bapak Presiden, untuk memastikan bahwa harkat dan martabat bangsa ini akan terlindungi, terjaga dan diperjuangkan.

Anak-anak negeri ini jelas tak mau disuapi. Tapi, bagaimana bisa makan kalau nasi dan piringnya sudah diakuisisi pihak lain? Apakah anak-anak negeri ini harus membayar nasi yang mereka masak sendiri? Menyewa piring mereka karena tak mampu membaca aturan pemakaiannya?

Inilah nasionalisme, bagi saya. Dimana, kepentingan siapapun, tidak akan dipertahankan jika itu harus mengalahkan kepentingan anak-anak negeri. Kami sepakat dengan Bapak Presiden soal nasionalisme, tapi tidak dengan neo-liberalisme. Terlalu banyak yang harus dikorbankan, nantinya...(*)

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau akses mobile langsung http://M.inilah.com via ponsel dan Blackberry !