
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI :
1 Euro = Rp.12613.3

(istimewa)
INILAH.COM, Jakarta - Meski Indonesia sudah keluar dari Dana Moneter Internasional (IMF), tapi setidaknya negeri ini dapat memanfaatkan lembaga keuangan global itu menghadapi volatilitas ekonomi dunia saat ini.
Lantas IMF seperti apa yang diinginkan oleh Indonesia? Begitu pertanyaan yang diajukan INILAH.COM kepada Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Sri Adiningsih terkait dengan kemungkinan jalinan erat RI-IMF menyusul masuknya Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani sebagai anggota Tim Reformasi IMF.
"Ya tentu saja, saya sih sangat berharap IMF bagi Indonesia itu bisa menjadi partner yang saling membantu, terutama karena sebagai salah satu negara yang sedang berkembang yang potensi volatilitas ekonominya besar," kata Sri Adiningsih, Jumat (5/9).
Dukungan IMF bagi negara sedang berkembang seperti Indonesia, katanya, tentunya masih tetap diperlukan. Hanya, tentu saja dengan berbagai mekanisme yang mungkin diharapkan bisa lebih mencerminkan kebutuhan negara seperti Indonesia.
Menurut Sri Adiningsih, dukungan dari IMF itu tidak harus digeneralisir dengan memberikan resep yang sama bagi semua negara berkembang. Tapi, harus dilihat dari masing-masing negara yang bermacam-macam kebutuhannya dan terutama kebutuhannya yang bisa sama.
Lembaga seperti IMF, katanya, dengan situasi ekonomi yang semakin volatile (bergejolak), paling tidak peranan IMF masih diperlukan. "Hanya mungkin formatnya supaya lebih akomodatif terhadap negara-negara yang banyak memanfaatkannya," imbuhnya.
Yang penting lagi bagi IMF, ujarnya, ikut menjaga pasar keuangan global dan mendukung penurunan gejolak ekonomi global.
"IMF kan sebenarnya dengan berbagai instrumen yang dimilikinya punya pengalaman di sana, supaya ekonomi yang guncangannya besar ini bisa diminimalisasi. Sehingga, stabilitas ekonomi global dan regional bisa terjaga lebih baik," tandas ekonom UGM itu.
Kemudian, ketika ditanya apakah Indonesia masih benar-benar membutuhkan IMF, Sri Adingsih mengatakan secara tidak langsung lembaga internasional itu masih tetap penting, terutama untuk menjaga stabilitas ekonomi global, yang dampaknya tentu saja merembes ke Indonesia.
"Ya kalau dalam situasi normal seperti ini, saya rasa kebutuhan secara langsung tidak ada. Tapi secara tidak langsung, IMF sebagai lembaga supranasional bisa menjaga stabilitas ekonomi global lebih baik. Ini akan menguntungkan bagi Indonesia," katanya.
Ia berpendapat bahwa bagaimana pun instabilitas ekonomi global akan berdampak negatif terhadap perekonomian nasional. Itu yang lebih diperlukan dalam situasi normal seperti ini. Itu bisa dilakukan oleh IMF karena lembaga ini punya keahlian (expertise) untuk itu.[L2]
- Faktor Teknis, Picu Rupiah Koreksi Tipis
- Rupiah Sore Ditutup Melemah 15 Poin
- Kejar Pajak hingga Luar Negeri!
- Rupiah Pagi Dibuka Stagnan
- Jelang Libur, Rupiah Bersiap Menguat
- JIBOR Rate Naik, Rupiah Melambung
- Rupiah Sore Ditutup Naik 35 Poin
- Revaluasi Yuan Dukung Penguatan Rupiah
- Rupiah Pagi Dibuka Menguat 20 Poin
- Selamat Tinggal Bill Gates
- Oow! Rupiah Melorot 15 Poin
- Inflasi China Tertinggi 16 Bulan
- 3 BUMN Siap Bangun Menara
- Rupiah Pagi Dibuka Stagnan
- 'Capital Inflow' Siap Picu 'Rally' Rupiah












