
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI :
1 Euro = Rp.12429.6

(Inilah.com/Bayu Suta)
INILAH.COM, Jakarta - Harga minyak mentah dunia terus melemah. Bahkan jenis Brent sudah di pasar Asia jatuh di bawah US$ 60 per barel. Desakan menurunkan harga BBM domestik pun makin kencang. Apalagi dari sisi anggaran bukan sesuatu hal yang mustahil.
Dengan anjloknya harga minyak dunia tersebut, pemerintah sampai saat ini belum juga memutuskan menurunkan harga jual BBM dalam negeri. Padahal, saat harga minyak dunia mengalami lonjakan pada Mei 2008 lalu, pemerintah menaikkan harga jual BBM dengan kisaran rata-rata sebesar 30%.
Ada sejumlah alasan yang dikemukakan pemerintah untuk tidak segera menurunkan harga jual BBM. Di antaranya adalah harga rata-rata ICP (Indonesia Crude Oil Price) sepanjang tahun ini yang masih sebesar US$ 107 per barel.
Hal ini, menurut Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu di Jakarta, baru-baru ini menunjukkan, masih adanya komponen subsidi yang harus diperhitungkan, sehingga pemerintah tak dapat dengan segera menurunkan harga jual BBM.
Alasan lainnya adalah, meskipun harga minyak telah turun, namun harga jual BBM non subsidi masih lebih tinggi dibanding harga jual BBM subsidi. Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, mengemukakan bahwa pemerintah tidak ingin harga Pertamax lebih murah dari harga BBM subsidi. "Harga BBM keekonomian tidak boleh rendah dari Premium," ujarnya.
Sebagai catatan, saat ini, harga BBM bersubsidi (Premium) adalah sebesar Rp 6.000 per liter. Sedangkan, harga BBM non subsidi (Pertamax) telah turun menjadi sebesar Rp 7.000 per liter.
Pernyataan Purnomo juga senada dengan penyataan Wapres Jusuf Kalla sebelumnya yang mengatakan harga BBM akan diturunkan jika harga minyak dunia stabil pada angka di bawah US$ 80 per barel. Wapres juga mengatakan bahwa alokasi subsidi BBM dalam APBNP 2008 sejumlah Rp 128 triliun telah terpakai seluruhnya.
Sejumlah alasan yang dikemukakan pemerintah di atas mungkin saja benar. Namun, terlepas dari hal tersebut, penurunan harga BBM harus dilakukan oleh pemerintah saat ini atas beberapa alasan.
Penurunan harga BBM akan memiliki multiplier effect yang besar bagi bergeraknya roda perekonomian masyarakat. Terutama adalah terjadinya penurunan tingkat inflasi, tingkat suku bunga, peningkatan daya beli dan angka konsumsi masyarakat, serta kemudian bergeraknya perekonomian di sektor riil.
Yang penting dicatat, penurunan harga BBM akan sangat terasa dampaknya bagi kelompok masyarakat kecil, yaitu mereka yang bergerak di bidang ritel, nelayan, usaha kecil dan menengah, serta sektor non formal seperti ojek, pedagang keliling, dan sebagainya.
Melalui penurunan harga BBM, kelompok-kelompok ini diharapkan dapat terdorong bergerak lebih cepat, menciptakan peluang kerja, dan melakukan ekspansi usaha. Hal ini akan sangat membantu upaya antisipatif terhadap gelombang PHK yang mungkin timbul dari resesi ekonomi dunia.
Selain itu, turunnya harga BBM secara otomatis juga akan meringankan biaya hidup yang harus dikeluarkan keluarga menengah ke bawah yang jumlahnya mencapai puluhan juta jiwa.
Berbagai prediksi juga menunjukkan bahwa harga minyak dunia masih akan mengalami tekanan sepanjang 2009. Hal ini dikarenakan berbagai faktor salah satunya permintaan minyak dunia cenderung bergerak secara lambat dan bahkan stagnan.
Faktor itu terutama dipengaruhi resesi ekonomi global yang telah menjalar ke berbagai pelosok dunia. Pemulihan resesi diperkirakan masih akan memakan waktu yang cukup lama, sehingga selama itu pula tidak akan ada perkembangan berarti dalam hal permintaan minyak dunia. Harga minyak dunia pun akan cenderung terus mengalami tekanan atau setidaknya kemandekan.
Harga minyak dunia pada 2009 diprediksi akan berfluktuasi hanya pada kisaran US$ 50-80 per barel dengan harga rata-rata diperkirakan sebesar US$ 65 per barel. Dengan nilai rata-rata tersebut, biaya pokok penyediaan BBM adalah sekitar Rp 5.000 per liter.
Dengan hitung-hitungan kasar itub berarti tidak ada lagi komponen subsidi BBM yang ditanggung pemerintah, sehingga harga BBM pun sudah sewajarnya segera diturunkan. [Bersambung/E1]
- Pertamina Harus Keluar dari Intervensi
- Pemerintah Tawarkan WK CBM Juni-Juli 2010
- Program Jaringan Gas Kota Hemat Subsidi Rp1 T
- Pertamina Hanya Mampu Alirkan Gas 25 MMSCFD ke PGN Hingga Juni
- Menperin Akui Pasokan Gas ke Industri Kurang
- PGN Tak Jadi Pangkas 20% Pasokan Untuk Industri
- April, Pertamina Mulai Alirkan 25 MMSCFD ke PGN
- Pemerintah Berhasil Penuhi Gas Industri Dalam Negeri
- DEN Minta Harga Jual Listrik Swasta Sesuai Keekonomian
- Pertamina Diminta Perbanyak Impor Minyak NOC
- Minyak Asia Tergelincir ke Bawah US$82
- Kontrak Gas Eksisting tak Bisa Diputuskan Sepihak
- Hatta: Medco Diminta Segera Naikkan Suplai Gas ke PGN
- Swap Gas Conoco ke Chevron Untuk Lifting Minyak
- Kenaikan TDL tak Sebabkan 'Multiplier Effect'












