

INILAH.COM, Kediri - Ketua Bidang Politik DPP Partai Demoktrat, Anas Urbaningrum, meminta Pertamina menindak tegas para distributor nakal yang berperan besar dalam hilangnya Bahan Bakar Minyak (BBM) selama beberapa hari terakhir.
"Pertamina harus menindak tegas distributor nakal, karena yang menjadi masalah hilangnya stok BBM adalah pada jalur distribusi," kata Anas usai memimpin salat Iduladha di Masjid Al Huda, Kelurahan Ngadirejo, Kota, Kediri, Jawa Timur, Senin (8/12).
Menurutnya, kebijakan pemerintah yang menurunkan harga BBM patut dipuji, karena akan mengurangi beban hidup masyarakat, sehingga dampak krisis global tidak berpengaruh secara signifikan pada sektor riil.
Sayangnya kebijakan itu tidak diimbangi pemantauan sistem distribusi. Ia menilai, pihak Pertamina tidak mampu bersikap tegas terhadap distributor yang nakal sehingga menyebabkan terjadinya kelangkaan BBM di sejumlah daerah.
Ia menuding para pelaku usaha di bidang perminyakan sengaja mengurangi pasokan. Mereka sama sekali tidak memperhatikan kepentingan rakyat karena hanya mementingkan dirinya sendiri.
Pada tanggal 1 Desember 2008, pemerintah telah menetapkan harga BBM jenis premium turun dari Rp 6.000 menjadi Rp 5.500 per liter. Namun penurunan harga tersebut menyebabkan stok premium di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU). [*/cms]
- SINGA Suplai Gas 50 MMSCFD Tutupi Defisit
- Defisit Gas PGN Akibat Kurangnya Suplai Gas dari Conoco
- Pertamina dan Mitranya Evaluasi Cadangan Blok Hanoi
- Karen: Pertamina Percayakan Ekspor-Impor Migas ke Petral-Platts
- Proyek RFCC Selesai, Pertamina–Mitsui Pisah
- Pemerintah Bentuk Tim Kaji Proyek Natuna D Alpha
- Dana Proyek Gas Kota 2010 Capai Rp188M
- Impor Gas Baru Teralisasi Akhir 2011
- Pemerintah Buka Tender Reguler 4 WK CBM Juni-Juli
- Defisit Gas PGN Capai 150 MMSCFD
- Proyek LNG Banten Tunggu 'Agreement' Pertamina-PLN
- Donggi Senoro Layaknya Hewan Tak Kunjung Bertelur
- Menteri ESDM Resmikan Proyek Gas Kota 2010
- Semester I, Pertamina Masuk Blok Mahakam
- Masih Dekati US$83, Minyak Asia Turun
Kurs BI :












