Sabtu, 20 Maret 2010
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI : 1 Euro = Rp.12429.6
 
Ekonomi
 
06/03/2009 - 14:27
BUMI Jangka Pendek Volatile
Asteria

(inilah.com/Wirasatria)

INILAH.COM, Jakarta – Pergerakan saham PT Bumi Resources (BUMI) masih akan volatile dalam jangka pendek. Hal ini terkait belum pastinya akuisisi dan restrukturisasi utang Group Bakrie. Namun investor masih bisa hold dengan target harga Rp 900 per unit.

Hal itu diungkapkan analis Samuel Sekuritas, Christine Salim. Menurutnya, aksi korporasi yang dilakukan BUMI ataupun Grup Bakrie, saat ini menimbulkan ketidakjelasan dan spekulasi di pasar. Alhasil, harga saham BUMI pun berfluktuasi tajam.

Namun Samuel masih mematok harga dengan discount 20% dari nilai discounted cash flow (DCF) sebesar Rp 1.130 per saham. "Kami masih mempertahankan rekomendasi hold untuk BUMI dengan target harga Rp 900 per saham," katanya dalam riset yang dipublikasikan, Jumat (6/3).

Rekomendasi ini mempertimbangkan kinerja BUMI sepanjang 2008 yang cukup menarik, dengan penjualan mencapai US$ 3,4 miliar dan EBITDA US$ 1,2 miliar. Pencapaian ini lebih rendah dari ekspektasi Christine yang menargetkan penjualan BUMI mencapai US$ 3,7 miliar dengan EBITDA US$ 1,362 miliar.

Menurutnya, perbedaan perhitungan tersebut disebabkan realisasi harga jual dan volume penjualan batubara BUMI yang lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, yaitu US$ 73 dan 53 juta ton. "Sedangkan asumsi harga jual dan volume penjualan batubara kami yaitu 55 juta ton dan US$ 75 per ton," paparnya.

Sedangkan laba bersih BUMI di 2008 diprediksi mencapai US$ 635 juta, lebih tinggi dari ekspektasi Christine sebesar US$ 625 juta. Hal ini karena asumsi tax rate yang lebih tinggi yaitu 30%.

Dengan devidend policy sebesar 30%, BUMI berpotensi membagikan dividen maximal US$ 0,00981 per saham atau equivalen Rp 117 per unit, dan menawarkan yield (net after tax) sebesar 13%. "Dalam kondisi pasar yang bearish dan trend penurunan suku bunga, dividen yield sebesar 13% cukup atraktif," imbuhnya.

Pada perdagangan Jumat (6/3) sesi siang, emiten batubara ini ditransaksikan di level Rp 780, atau naik 10 poin. Pada perdagangan kemarin saham ini ditutup anjlok 30 poin ke level Rp 770 per lembarnya. Pada harga Rp 770 per saham, BUMI diperdagangkan dengan price earning (PE) 2009 sebesar 2,1 kali atau 59,6% discount terhadap rata-rata sektor sebesar 5,2 kali.

Namun, Christine mengkhawatirkan posisi leverage BUMI yang dinilainya relatif tinggi. Tahun ini perseroan memperkirakan total utang akan mencapai US$ 1,29 miliar. Jumlah ini telah memfaktorkan potensi tambahan utang akuisisi sebesar US$ 390 juta, sehingga rasio debt to market cap mendekati 1 kali.

"Dengan estimasi EBITDA 2009 sebesar US$ 1,500 miliar, maka rasio utang terhadap to EBITDA diperkirakan mencapai 0,86 kali di 2009, ini angka yang relatif tinggi," ulasnya.

Kinerja BUMI tahun ini pun diperkirakan tidak seindah 2008. Hal ini dampak krisis ekonomi global yang telah menekan permintaan kelistrikan berlanjut pada turunnya demand batubara dunia. Australia diberitakan telah menurunkan proyeksi permintaan impor batubara tahun 2009 sebesar 6%.

Menurut ABARE (Australian Bureau of Agricultural and Resources Economics), permintaan impor batubara untuk PLTU akan turun 2,6% menjadi 699,7 juta ton dibandingkan prediksi awal yang tumbuh 3,2% sebesar 746,9 juta ton.

Demikian pula permintaan impor dari Asia di 2009 yang diperkirakan turun 3,2% menjadi 378.9 juta ton, dari perkiraan awal pertumbuhan 3,2% sebesar 411,9 juta ton. Beberapa negara pengimpor batubara diprediksi mengurangi permintaan seperti Jepang yang akan menekan demand sebesar 10 juta ton menjadi 125 juta ton, Korea Selatan turun 6% menjadi 69 juta ton dan China yang turun secara marginal 33 juta ton.

Harga batubara pun berada dalam tren melemah. Berdasarkan indeks Newcastle, harga batubara dalam 1 bulan terakhir anjlok 16% ke level US$ 65,32 per ton seiring turunnya permintaan dari Jepang, Korea Selatan dan China.

"Kami terus memonitor perkembangan harga batubara dunia. Saat ini kami menggunakan asumsi harga batubara sebesar US$ 80/ton untuk 2009, US$70/ton di 2010 dan US$ 60 untuk long term," katanya.

Christine menuturkan, saham BUMI mengalami kenaikan sebesar 49% dalam 1 bulan terakhir. Hal ini dipicu berbagai spekulasi, seperti adanya strategic investor dari China yang akan masuk ke BUMI, kemudian potensi pembagian dividen dan keharusan melakukan RUPSLB berkaitan rencana akuisisi.

Saat ini belum ada konfirmasi dari manajemen terhadap spekulasi tesebut. Namun, Christine melihat beberapa transaksi akuisisi telah dilakukan perusahaan China di sektor komoditas dan energy, seperti Rio Tinto, Petrobas Brazil dan Verenex.

Sehingga ia menduga besar kemungkinan perusahaan China akan mengincar perusahaan batubara Indonesia untuk menjamin kebutuhan batubara ke depan. "Kami melihat ada potensi China men-secure dolar yang dimilikinya untuk mengantisipasi depresiasi mata uang AS melalui pembelian asset dunia," tuturnya. [E1]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau akses mobile langsung http://M.inilah.com via ponsel dan Blackberry !