

(Foto/ Subekti)
INILAH.COM, Jakarta - Dari 402 emiten yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) ternyata ada sekitar 80%-85% emiten yang tergolong saham tidur.
Hal ini dijelaskan kepala Riset Infovensta Utama, Parto Kawito seusai seminar 'Practical Stock Trading With Technical Analysis' di Graha Niaga, Jakarta, Kamis (2/7).
Lebih jauh, ia memaparkan hanya 10% saham yang populasinya aktif, sedangkan 15%-20% yang dikategorikan dalam transaksi perdagangan atau sekitar 100 saham. "Lihat saja di Kompas 100, mungkin dari 100 saham itu, hanya beberapa saja saham yang likuid dan sisanya sama (tidur)," jelas Parto.
Untuk itu, ia mengusulkan cara yang dapat membangunkan saham tidur yakni, waktu IPO saham yang ditawarkan relatif besar, dijual ke berbagai investor, harga saham jangan terlalu tinggi, harus ada market maker dan didukung oleh keterbukaan informasi emiten tersebut.
Sebelumnya, Kabiro Transaksi dan Lembaga Efek Bapepam-LK Nurhaida mengimbau agar analis pun dapat menganalisa saham tidur agar ada performance. Namun, permasalahnnya adalah siapa yang akan membayar analis tersebut. [san/cms]
- IHSG Dibuka Anjlok 24,72 Poin
- IHSG Masih Diuji di Kisaran 2.712-2.767
- BEI Suspensi Saham RAJA
- Setelah Stagnan, BUMI Akan Terus Menanjak
- Laba Bersih Kageo Igar Melesat 236,69%
- Lippo Cikarang Cetak Laba Bersih Melejit 81,19%
- MERK Cetak Laba Bersih Tumbuh 48,75%
- Dana Asing Masih Bisa Selamatkan Rupiah
- Laba Bersih Antam Jeblok 55,82%
- Saham POLY Diburu Bandar?
- Asing Bantu Dayaido Akuisisi?
- Cermati Saham Bukit Sentul
- Bapepam Tangani 7 Emiten
- Beli Lalu Tahan TLKM & PGAS
- Pekan Ini: Beli Selektif Saham Komoditas & Bluechips
Kurs BI :












