Sabtu, 20 Maret 2010
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI : 1 Euro = Rp.12429.6
 
Ekonomi
 
09/11/2009 - 08:16
Prediksi Pasar Valas
Waspada, Rupiah Balik Arah
Natascha & Ahmad Munjin

(inilah.com/Agung Rajasa)

INILAH.COM, Jakarta – Nilai tukar rupiah Senin (9/11) diperkirakan melanjutkan penguatan. Namun, pelaku pasar harus mewaspadai pembalikan arah yang akan menekan mata uang lokal tersebut.

Pengamat valas dari bank swasta asing, Fauzi Halim memprediksikan, rupiah masih berpotensi menguat seiring pelemahan dolar AS. Namun koreksi dolar dikhawatirkan tidak berlangsung lama. “Rupiah awal pekan ini akan bergerak pada kisaran 9.400-9.700 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM.

Menurutnya, jika dolar menguat dan rupiah melemah, dikhawatirkan mata uang Indonesia ini bakal anjlok lebih dalam lagi. Namun, Bank Indonesia (BI) diyakini memahami kekhawatiran itu sehingga tidak lagi menurunkan suku bunganya. “Keputusan BI ini bisa menahan penarikan dana besar-besaran dari investor hot money,” paparnya.

Akhir pekan lalu, rupiah menguat karena pelemahan dolar AS. Terutama dipicu optimisme pasar Eropa setelah bank sentral Eropa mengumumkan perekonomian kawasan bakal berekspansi pada 2010. Hal tersebut meningkatkan risk appetite mata uang non-dolar, terutama euro. ”Padahal, data-data seperti job claim AS positif,” ujarnya.

Sementara naiknya tingkat pengangguran AS, bahkan tembus level 10%, dinilainya sudah menyentuh batas tertingginya. Ini berarti hanya tinggal menunggu turunnya saja. Investor tak perlu khawatir data pengangguran akan naik lagi. Apalagi perekonomian AS sudah mulai menunjukkan pemulihan.

“Namun, kondisi ini menyebabkan dolar kurang diminati investor, karena mereka mencari mata uang dengan tingkat suku bunga yang lebih tinggi, misalnya ke mata uang Eropa,” paparnya.

Kondisi dalam negeri sendiri, lanjutnya, masih rentan karena ketidakpastian hukum seputar kasus KPK-Polri. Investor mengkhawatirkan kasus ini akan merambat ke Bank Century.

Jika kasus ini sampai terbuka, ada spekulasi mengenai keterlibatan Wapres Boediono, yang ketika menjabat sebagai mantan Gubernur BI, sempat mendongkrak rupiah sehingga naik tajam. “Jika Boediono diutik, investor khawatir dan rupiah dikhawatirkan terjun bebas. Tapi ini hanya spekulasi di jangka menengah-panjang,” pungkasnya.

Di sisi lain, Tony Mariano, analis valas Harvest International Futures memperkirakan rupiah hari ini akan menguat, seiring positifnya bursa regional, menyusul data-data makro ekonomi AS pekan lalu yang sangat positif. “Rupiah akan bergerak pada kisaran 9.450-9530,” ungkapnya.

Menurutnya, laporan produktivitas tenaga kerja nonfarm payroll AS yang melejit 9,5%, terbesar dalam 6 tahun terakhir, bisa memicu tumbuhnya risk appetite. Apalagi, klaim pengangguran merosot 20 ribu menjadi 512 ribu.

“Akibatnya, capital inflow pun akan mengalir deras ke pasar domestik dan rupiah pun berpeluang menguat,” ujarnya. Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta , Jumat (6/11) menguat 45 poin (0,473%) terhadap dolar AS menjadi 9.455/9.465. [vin/ast/mdr]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau akses mobile langsung http://M.inilah.com via ponsel dan Blackberry !