

(inilah.com /Dokumen)
INILAH.COM, Jakarta – Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (16/11) diperkirakan masih akan menguat. Berlanjutnya stimulus AS serta keengganan China memperkuat mata uangnya, akan menekan dolar AS.
Analis valas Harumdana Berjangka, Andri Zakarias, mengatakan potensi penguatan rupiah pekan ini masih terbuka, seiring trend pelemahan dolar AS yang berkepanjangan. “Rupiah akan bergerak pada kisaran 9.250-9.500 per dolar AS, pekan ini,” ujarnya kepada INILAH.COMdi Jakarta.
Sentimen positif juga berasal dari pernyataan Bank Indonesia (BI) yang menambah keyakinan pasar dalam negeri. Optimisme ini timbul setelah BI menyatakan koreksi dolar AS yang berlangsung hingga akhir tahun, memicu adanya capital inflow. “Alhasil, perekonomian Indonesia diprediksikan mencatat pertumbuhan positif pada kuartal 4 tahun ini,” katanya.
Berlanjutnya pelemahan dolar disebabkan stimulus yang masih dipertahankan hingga semester pertama 2010. Selama kondisi ini terjadi, mata uang AS belum bisa menguat karena bank sentral The Fed dan pemerintah akan terus menggelontorkan dolar ke pasar keuangan.
Selain itu, koreksi dolar juga dipicu aksi China yang tak menanggapi himbauan AS dan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk memperkuat nilai tukar mata uang negaranya. Terutama yang berharap agar ekspor AS bisa lebih kompetitif. “Pasalnya, mereka juga ingin mendorong ekspor, yang berarti apresiasi yuan tidak bisa terlalu besar,” paparnya.
Di sisi lain, Ariston Tjendra, analis dari PT Monex Investindo Futures memperkirakan pergerakan nilai tukar rupiah Senin (16/11) berpotensi menguat seiring tren pelemahan dolar AS. “Rupiah akan bergerak pada kisaran 9.300-9450,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta.
Lebih jauh Ariston mengatakan meski Menteri Keuangan AS Timothy Geithner mengatakan dolar AS yang kuat sangat penting bagi AS, tapi pengaruhnya terhadap tren data-data di AS saat ini masih menunjukkan pelemahan. Justru, dolar yang melemah sangat bagus untuk ekonomi AS. “Bursa saham bisa naik begitu juga dan harga rumah,” ujarnya.
Pelemahan dolar AS membuat harga rumah di negara itu murah sehingga meningkatkan demand. AS juga bisa melakukan ekspor kembali karena barang-barang mereka di pasar ekspor banyak peminatnya akibat harganya yang sangat kompetitif. “Karena itu, industri AS bisa berproduksi kembali,” paparnya.
Akibatnya, karena tingginya permintaan terjadi inflasi yang bisa menopang pemulihan ekonomi di AS sendiri. Dengan demikian, dolar yang kuat sebagaimana dikatakan Geithner hanya merupakan lip service agar bunga obligasinya bersaing dengan Asia. Pasalnya, Asia merupakan pemegang obligasi AS terbesar saat ini. “AS takut nilai obligasinya jatuh gara-gara dolar AS melemah,” pungkasnya.
Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (13/11) menguat 60 poin (0,637%) terhadap dolar AS menjadi 9.355/9.365. [ast/mdr]
- Rupiah Dibuka Melemah 15 Poin
- Faktor Eksternal Masih Dukung Rupiah
- BPS: Maret Diperkirakan Deflasi
- Suku Bunga The Fed Picu Rupiah Meroket
- Sentimen The Fed, Rupiah Sore Naik Rp50 Poin
- Kunjungan Obama Tak Berefek Ekonomi
- ANTA Catatkan Laba Bersih Naik 37%
- Rupiah Pagi DIbuka Menguat 5 Poin
- Usai Liburan, Rupiah Akan Menguat
- Faktor Teknis, Picu Rupiah Koreksi Tipis
- Rupiah Sore Ditutup Melemah 15 Poin
- Kejar Pajak hingga Luar Negeri!
- Rupiah Pagi Dibuka Stagnan
- Jelang Libur, Rupiah Bersiap Menguat
- JIBOR Rate Naik, Rupiah Melambung
Kurs BI :












