

(istimewa)
INILAH.COM, Jakarta - Diprediksikan Indonesia akan defisit listrik pada 2015. Krisis listrik salah satu kendala utama pertumbuhan sektor manufaktur..
Hal itu disampaikan Kepala Danareksa Research Institute Purbaya Y.Sadewa dalam paparannya. "Tidak tersedianya listrik merupakan salah satu kendala utama pertumbuhan sektor manufaktur," tutur Purbaya.
Lebih lanjut ia mengatakan, saat ini program pembangunan listrik nasional sudah direncanakan dengan baik. "Akan tetapi tampaknya masih ada salah perhitungan dalam perkiraan permintaan listrik Indonesia di masa mendatang,"ujar Purbaya.
Bila perekonomian tumbuh dengan laju rata-rata sekitar 6 persen per tahun maka permintaan listrik akan tumbuh dengan laju sekitar 13 persen per tahun. "Rencana yang ada saat ini dihitung dengan asumsi pertumbuhan permintaan listrik yang lebih rendah sehingga di masa mendatang Indonesia dapat mengalami krisis listrik lagi," jelas Purbaya.
Kebijakan kelistrikan yang dilakukan antara lain dengan menghitung ulang dan menyesuaikan kapasitas pembangkit yang akan dibangun, mensinergikan seluruh aset nasional Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sehingga terdapat kepastian bahwa pembangkit yang dibangun mendapat pasokan bahan bakar misal batubara yang berkesinambungan dan membantu agar pembangunan pembangkit mendapatkan akses ke sumber pendanaan yang murah.
Purbaya mengatakan pada masa lampau menunjukkan sektor pertanian, pertambangan dan manufaktur dapat tumbuh dengan laju yang lebih baik dari rata-rata lima tahun terakhir. Rata-rata sektor pertanian, pertambangan dan manufaktur tumbuh sekitar 2,3%. Sedangkan pada periode 1990 hingga 1994, rata-rata sektor pertanian mencapai 2,3%, sektor pertambangan sekitar 4,1% dan sektor manufaktur mencapai 10,7%. "Bila dalam lima tahun terakhir ketiga sektor tersebut dapat dibuat sama dengan rata-rata pertumbuhan antara 1990-1994, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai di atas 7 persen secara berkesinambungan," ujar Purbaya.
Salah satu sektor yang harus diperbaiki yaitu memperbaiki kinerja sektor manufaktur. Purbaya mengatakan, ada empat kebijakan besar untuk memperbaiki kinerja sektor manufaktur antara lain pertama, memperbaiki iklim investasi. Kedua, mendorong terciptanya industri yang menciptakan nilai tambah.Ketiga, mendorong industri yang produknya masih banyak diimpor dan menciptakan kebijakan industri yang komprehensif. "Keempat kebijakan besar tersebut dilakukan secara terintegrasi. Pemerintah harus mengawal dengan sungguh-sungguh keempat kebijakan tersebut," kata Purbaya. [hid]
- SINGA Suplai Gas 50 MMSCFD Tutupi Defisit
- Defisit Gas PGN Akibat Kurangnya Suplai Gas dari Conoco
- Pertamina dan Mitranya Evaluasi Cadangan Blok Hanoi
- Karen: Pertamina Percayakan Ekspor-Impor Migas ke Petral-Platts
- Proyek RFCC Selesai, Pertamina–Mitsui Pisah
- Pemerintah Bentuk Tim Kaji Proyek Natuna D Alpha
- Dana Proyek Gas Kota 2010 Capai Rp188M
- Impor Gas Baru Teralisasi Akhir 2011
- Pemerintah Buka Tender Reguler 4 WK CBM Juni-Juli
- Defisit Gas PGN Capai 150 MMSCFD
- Proyek LNG Banten Tunggu 'Agreement' Pertamina-PLN
- Donggi Senoro Layaknya Hewan Tak Kunjung Bertelur
- Menteri ESDM Resmikan Proyek Gas Kota 2010
- Semester I, Pertamina Masuk Blok Mahakam
- Masih Dekati US$83, Minyak Asia Turun
Kurs BI :












