Sabtu, 13 Maret 2010
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI : 1 Euro = Rp.12561.9
 
Wawancara
 
29/01/2010 - 13:31
Adjie Pangestu
Tak Bisa Hidup Tanpa Wanita
Aris Danu Cahyono

INILAH.COM, Jakarta - Adjie Pangestu sudah dua kali menduda. Itu membuatnya merasa kesepian. Ia pun akhirnya mengaku tak bisa hidup tanpa wanita di sisinya.

Sungguhkah? Tentang semuanya, berikut ini wawancara INILAH.COM dengannya, di Ciganjur, Jakarta Selatan, Kamis (28/1) malam.

Bagaimana menghadapi kesendirian ini?

Gue pulang kerja capek langsung tidur. Kalau nggak ada syuting gue gym, atau gue janjian sama Raffi, anak semata wayang. Kalau Raffi nggak bisa, gue janjian sama teman-teman gue aja. Pokoknya gue mengisi hari dengan kesibukkanlah.

Bedanya di mana?

Selama gue berumah tangga sama sekarang, gue memang lebih bisa mandiri. Segala sesuatu gue kerjain sendiri, gue punya 'weker' sendiri, terus kalau mau masak atau makan gue siapkan semuanya sendiri. Termasuk menyiapkan baju. Gue nggak merasa kebinggungan karena dari awal memang gue sudah seperti itu.

Ya, sudah biasa sendiri sejak mulai kuliah, jadi sekarang nggak terlalu banyaklah. Tapi terkadang rasa kesepian itu ada, tapi nggak sampai yang buat gue down.

Anda merasa termasuk tipe pria yang bisa hidup tanpa perempuan?

Tidak. Gue justru merasa nggak bisa hidup tanpa perempuan. Ada alasannya, karena gue takut punya teman banyak perempuan bakal dibilang playboy, pada akhirnya gue nggak punya banyak itu, akhirnya gue sadar kalau gue nggak bisa hidup tanpa pdrempuan. Jadi gue pengen ada yang bisa share sama gue. Kalau nonton gue ada yang nemenin, gue pengen ke mana ada yang nemenin juga. Dan sekarang terasa banget.

Sudah ada yang klik belum?

Teman dekat ada, cuma yang bisa gue kasih tahu di sini adalah gue nggak pernah punya komitmen. Gue hanya berteman baik belum pacaran dan belum mengikarkan diri sebagai pasangan. Kita baru kenal, baru tahu aktivitas masing-masing. Soal gue nggak mau punya komitmen, gue punya alasannya, ya, karena gue nggak mau cepat punya pacar.

Masih terbayang-bayang?

Terbayang-bayang sih nggak, cuma gue masih trauma dengan yang kemarin. Untuk yang kedua kalinya, istri gue meninggalkan gue untuk hal lain. Entah cowok, harta yang pasti mereka pergi dari gue. Jadi itu gue jadikan bahan buat intropeksi, bahan buat mikir. Justru itu membuat gue minder dekat dengan perempuan. Gue takut.

Minder kenapa?

Ya, gue kenalan tapi habis itu gue nggak ada follow up. Tapi tiba-tiba nanti dia yang SMS atau telepon baru nyambung lagi. Kadang-kadang gue berpikir, 'kok'? Untung kebetulan dikenalin sama semuanya anak-anak yang baik-baik, yang benar-benar nggak bisa dibuat main-main. Jadi gue pikir kalau gue seriusin nanti menyakiti dia, karena gue belum komitmen. Tapi kalau nggak serius sayang juga. Itu yang menjadi dilema buat gue. Jadi ya sekarang gue putuskan kalau memang jodoh nggak ke mana. Sekarang gue berteman saja. [aji/mor]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau akses mobile langsung http://M.inilah.com via ponsel dan Blackberry !