Minggu, 21 Maret 2010
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI : 1 Euro = Rp.12429.6
 
Pemilu 2009
 
13/12/2008 - 00:07
Megawati 'Kepincut' Sultan
Djibril Muhammad & Anton Aliabbas
Megawati-Sri Sultan
(inilah.com)

INILAH.COM, Jakarta - Lima nama politisi kandidat cawapres kini dikantungi capres PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Nama Sultan Hamengku Buwono X adalah salah satu kandidat kuat yang akan mengisi posisi tersebut. Benarkah Mega 'kepincut' Sultan?

Bagi Moncong Putih, nama-nama itu nanti akan dibahas dalam Rakernas PDIP di Solo pada akhir Januari 2009 mendatang. Megawati sendiri tidak mau ambil pusing soal siapa yang kelak mendampinginya. Putri sulung Bung Karno itu menyerahkan urusan itu ke Sekjen PDIP Pramono Anung.

"Pram (Sekjen PDIP Pramono Anung) bilang, 'Jadi bagaimana Bu, mau nama atau kriteria?' Ya kamu sekjen mikir, saya bilang," kata Mega memberikan sambutan dalam acara peluncuran buku 'Mereka Bicara Mega' di Jakarta.

Dalam sambutan tersebut, Mega memang cukup lama mengulas kenangan bersama keluarga Sultan. Mega mengaku sangat dekat dengan Sultan Hamengku Buwono IX, mantan Wakil Presiden eras Soeharto. "Kalau dulu setiap kali berlibur, Yogyakarta pasti menjadi salah satu tempat berlibur," cerita Mega.

Sultan Hamengku Buwono X yang hadir dalam acara tersebut juga mengaku memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Mega. "Kalau saya memanggilnya Mbak Mega, dan dia memanggil saya, Mas Sultan," kata Sultan saat memberi pidato singkat.

Sultan sendiri tidak memberi sinyal apapun saat menghadiri acara ini. Menurutnya, kedatangannya ini hanya sebagai bentuk mempererat tali silaturahmi semata. Yang terpenting, di mata Sultan, bagaimana membuat Indonesia maju, sejahtera dan memiliki pemerintahan mendatang yang akuntabel.

"Saya ucapkan selamat, semoga cita-cita luhur bisa tercapai," ujarnya diplomatis.

Pramono sendiri tidak menampik akan adanya anggapan PDIP bakal meminang Sultan. Dirinya menilai hal itu wajar. "Karena ini waktunya berdekatan dengan pemilu, pasti akan dikait-kaitkan segala macam. Itu biar saja," jelas Pramono Anung.

Sukardi Rinakit, yang kini mendukung Sultan menjadi capres berpendapat duet Mega dan Sultan baik. "Kalau dulu saya bilang pendamping Mbak Mega harus pemimpin muda. Kalau sekarang yang bisa memimpin bangsa saat ini ya kombinasi figur yang memiliki basis tradisional," celetuknya singkat saat memberi testimoni soal Mega.

Hubungan Mega dengan Sultan dalam kancah perpolitikan memang cukup erat. Meski memiliki latar belakang partai politik yang berbeda, keduanya tidak melihat hal itu sebagai hambatan besar. Mega merintis karir melalui PDI dan lantas mendirikan PDIP. Sementara Sultan bergabung ke Partai Golkar.

Namun keduanya tercatat sebagai elit yang tergabung dalam pertemuan Ciganjur pada November 1998 silam. Selain Sultan dan Mega, tercatat juga Amin Rais dan Abdurrahman Wahid sebagai politisi yang juga hadir dalam acara itu. Dan Sultan memang tinggal satu-satunya tokoh Ciganjur yang belum mendapat 'jatah'.

Acara peluncuran buku ini memang banyak dihadiri para capres. Sebut saja Sultan, Rizal Ramli, Fadjroel Rahman, dan Fadel Mohammad. Sedianya Akbar Tandjung dan Prabowo Subianto dijadwalkan datang. Tetapi karena ada acara lain, kedua mantan peserta konvensi capres Golkar 2004 itu batal menunjukkan batang hidungnya.

Pilihan pasti memang belum dijatuhkan. Dan peta politik juga terus berubah seiring dekatnya pelaksanaan pesta demokrasi. Tentunya, PDIP dan Mega memiliki kalkulasi sendiri, apakah akan meneruskan kedekatan dengan Sultan ke kompetisi pilpres atau memilih kandidat lain. [L4]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau akses mobile langsung http://M.inilah.com via ponsel dan Blackberry !