

(inilah.com/Bayu Suta)
INILAH.COM, Jakarta – Minyak seperti sifatnya; kadang licin. Minyak seperti manfaatnya; memunculkan energi. Partai Demokrat menghindari licinnya dan memetik energinya. Sudah saatnya Partai Golkar memanfaatkan minyak sebagai pendongkrak.
Partai Demokrat mengklaim paling berhasil dan berjasa dalam menurunkan harga bahan bakar minyak. Tentu, publik bisa melihat ini sebagai klaim sepihak. Sejatinya, partai-partai yang menempatkan kadernya di pemerintahan, terutama di sektor energi, juga bisa mengklaim ikut berjasa. Termasuk Partai Golkar yang pemimpinnya, M. Jusuf Kalla, menduduki posisi wakil presiden.
Karena itu, para analis politik menegaskan, sudah saatnya Golkar ikut mengklaim prestasi itu. Kini saatnya Golkar bicara bahwa di situ juga ada kontibusinya. "Saya kira Golkar harus klaim juga. Kalau tidak, Demokrat akan lenggang kangkung. Sementara Golkar seperti mendorong mobil mogok," kata pengamat politik M Qodari.
Pernyataan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Abdullah Mubarok yang mengklaim turunnya harga BBM berkat campur tangan partai Demokrat masih bisa diperdebatkan. Betul, Ketua Dewan Penasihat Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono yang memberikan kata akhir sebagai Presiden RI. Tetapi, Presiden SBY sudah pasti tak bisa bergerak sendiri tanpa dukungan Wapres Kalla dan para pembantu mereka.
Golkar bisa saja termarginalisasi jika tak ikut mengklaim bahwa mereka pun ikut berperan dalam proses turunnya harga BBM. "Kalau mau jujur, Demokrat harusnya ngomong juga kalau Golkar ikut berperan. Kalau begini, ujung-ujungnya suara Golkar akan termarginalisasi," imbuh Qodari dari Indo Barometer.
Bagaimanapun, Partai Golkar, 'juara bertahan' Pemilu 2009, menghadapi tantangan lebih berat tahun depan. Pada Pemilu 2004 lalu, Golkar menjadi partai politik paling unggul. Mereka meraih 21,8% suara. Golkar mengungguli 'juara bertahan' sebelumnya, PDI Perjuangan yang hanya meraih 18,5%.
Beban berat Golkar pada Pemilu 2009 tak hanya karena 'Partai Beringin' harus mempertahankan citranya. Mereka juga berhadapan dengan pesaing-pesaing politik yang makin berwarna, canggih, dan makin cemerlang. Untuk bertahan dari serbuan pengancam, Golkar harus kreatif dan mengajukan gagasan segar agar bisa meraih suara dalam skala besar.
Leo Suryadinata, Aris Ananta, dan Evi N. Arifin dalam buku Emerging Democracy in Indonesia (ISEAS, Singapura, 2005) menekankan bahwa perolehan suara Golkar cenderung konstan atau datar. Itu bisa terlihat dari hasil pada Pemilu 1999 dan 2004. Perolehan suara Golkar itu berfokus pada angka kisaran 20%. Artinya, suara Golkar diprediksi tak ada perubahan mencolok.
Dalam hal ini, Kalla sudah berusaha keras untuk mendorong semua kader partai agar terus bergerak maju menuju Pemilu 2009. Kekalahan dalam beberapa pilkada provinsi dijadikan hikmah dan pelajaran berharga.
Jika Golkar mengklaim balik sebagai pihak yang berkontribusi atas turunnya harga BBM dan komoditas lainnya, maka Demokrat tak akan menang sendiri. Golkar harus berani bersikap, agar Partai Demokrat juga tanggap. Bukankah kerja sama keduanya yang membuat mereka menuai capaian saat ini? [I4]
- Boediono Tiba, Ratusan Siswa Berhenti Belajar
- Boediono Tinjau Sampah di Bantargebang
- Giliran Golkar Terlilit Cek Miranda
- Ketua PBNU Minta Makassar Steril dari Unjukrasa
- Hasyim Muzadi: Rois Aam NU Langsung Dari Allah
- Mendiknas Jamin Tak Ada Bocoran Soal UN
- Hatta Akan Beri SBY Masukan Soal Rekomendasi Pansus
- Bila ICMI Tak Lagi Seksi
- Tujuh Kapal TNI-AL Amankan Obama di Bali
- Pemerintah Beri Penghargaan Ibunya Obama
- Ramadhan Pohan Diusir FUI
- OC Kaligis Surati KPK Soal Kebohongan Ary Muladi
- KPK Periksa Petinggi Bank Century
- 14 Tahun Ibunya Obama Perjuangkan Ekonomi Kerakyatan
- PN Jaksel Tolak Eksepsi Muhammad Jibriel
Kurs BI :












