

(istimewa)
INILAH.COM, Manila – Pemerintah Iran memutuskan untuk mengabaikan kemungkinan sanksi atas penolakan Teheran mengirimkan cadangan uranium mereka ke luar negeri.
“Sanksi adalah literatur tahun 1960-an dan 1970-an. Saya pikir mereka tidak cukup bijaksana jika mengulangi pengalaman yang salah,” papar Menlu Iran Manouchehr Mottaki, di Manila, Filipina, seperti dikutip Reuters, Kamis (19/11).
Mottaki menolak rancangan perjanjian yang diprakarsai oleh pengamat nuklir Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Rekomendasi itu berisi bahwa Iran harus mengirim sekitar 75% uraniumnya yang diperkaya tingkat rendah (low enriched) ke Rusia dan Prancis.
Di negara tersebut, uranium akan diolah lebih lanjut untuk dijadikan bahan bakar sebuah reaktor riset medis di Teheran. Mottaki menegaskan Teheran bersedia membahas kesepakatan tersebut, hanya jika barter uranium yang diperkaya untuk bahan bakar nuklir itu berlangsung di Iran.
“Iran telah mengajukan kesediaannya dalam rangka pembicaraan lebih lanjut, berdasarkan rencana kerja yang telah disampaikan. Bukan kami yang mengusulkan barter, tapi mereka. Kami membahas mengenai pelaksanaannya,” lanjut Mottaki yang sedang berkunjung ke Filipina, melalui seorang penerjemah.
Keputusan tersebut diperkirakan akan membuat AS dan negara-negara sekutunya berang. Mereka selama ini menyeru Iran untuk menerima kesepakatan yang bertujuan menunda potensi kemampuan Teheran membuat bom, setidaknya setahun, melalui cara melepas sebagian besar uranium yang diperkayanya. [*/vin]
- RUU Kesehatan Obama Lebih Penting Ketimbang Jakarta
- Unjuk Rasa Thailand Rugikan Industri Pariwisata
- Cerita Tentang Cewek
- Kunjungan Obama Molor Karena RUU Kesehatan
- PBNU: Tak Perlu Tolak Obama
- 'Obama Tak Beda Jauh dengan Firaun'
- Kunjungan Obama ke Indonesia Ditunda Lagi
- "Ayahku Adalah Misteri"
- Kapal Perang RI-AS Bentengi Obama
- Laris Manis Buku Obama
- CIA: Al Qaeda Mulai Lemah
- Komandan AS Ingin Tangkap Osama Hidup-hidup
- Dimana Obama Menginap?
- Obama Sangkal Berseteru dengan Israel
- Obama Tiba, Tak Bahas Namru 2
Kurs BI :












