Jumat, 19 Maret 2010
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI : 1 Euro = Rp.12429.6
 
Teknologi
 
11/03/2009 - 14:27
Era TV Plasma Segera Berakhir
Budi Winoto

(inilah.com/ Bayu Suta)

INILAH.COM, Jakarta - Langkah Pioneer menghentikan jajaran TV Kuro diartikan industri TV plasma akan segera berakhir. Resesi ekonomi, serta teknologi yang semakin maju dan harga TV LCD yang semakin murah, mempercepat kematian TV plasma.

Pioneer mengumumkan akan mematikan bisnis TV-nya pada Maret 2010 dan berkonsentrasi kepada sistem untuk kendaraan dan audio visual. Ini sesuatu yang dramatis, karena tahun lalu TV plasma Pioneer disebut "Ultimate Black" Kuro membuat dunia heboh.

Meskipun pengembangan teknologi ini terus berlanjut, tapi masalah di industri plasma tak bisa dihindarkan. Plasma pernah mengalami masa kejayaan pada periode 2004 hingga 2006. Saat itu plasma mengambil alih TV proyektor sebagai TV ukuran besar.

Tapi plasma mengalami masa berat, karena harganya tidak mampu turun dengan volume penjualan yang semakin meningkat. LCD juga semakin menarik konsumen untuk membeli.

Pada Februari 2008 saat resesi mulai menjangkiti dunia, TV plasma kualitas premium menjadi tidak ada yang mampu menjangkau. Di saat sama, teknologi LCD telah mencapai standar yang dulunya dimiliki plasma, layar lebih besar, contrast ratio lebih tinggi, lebih ringan dan lebih murah.

Memang kualitas gambar LCD belum menyamai level plasma, tapi untuk rata-rata konsumen masih sulit untuk menemukan perbedaannya. Pada awal 2009 penjualan LCD secara global telah melampaui plasma 8 banding 1. Pioneer mencoba kerjasama dengan Panasonic untuk membuat versi TV plasma agar teknologi Kuro terus bisa dinikmati konsumen.

Tapi permintaan yang lesu membuat perusahaan itu memproyeksi kerugian senilai US$ 1,41 miliar untuk 2008-2009. Selain terjadi penurunan pendapatan operasi 50% serta PHK 10 ribu karyawan termasuk penutupan pabrik Pioneer di AS, Inggris dan Jepang.

Produsen elektronik lain seperti Hitachi dan Vizio bertindak cepat untuk meninggalkan bisnis plasma yang berdarah-darah dan konsetrasi ke LCD. Sementara Sony, Panasonic dan LG melaporkan profit triwulanan yang turun.

Keputusan Pioneer untuk menghentikan produksi plasma lebih rumit. Perusahaan ini membeli bisnis plasma NEC pada 2004. Pabrik plasma yang masih tersisa kini tinggal Panasonic, LG dan Samsung yang membuat komponennya sendiri.

Panasonic mungkin mendapat keuntungana dari matinya TV plasma Kuro Pioneer. Kebanyakan insinyur Pioneer yang mengembangkan Kuro kini bekerja di Panasonic. Demo terbaru menunjukkan kualitas TV plasma Panasonic sudah hampir menyamai Kuro.

Sebagai pemegang pasar TV plasma terbesar lebih dari 35%, Panasonic bisa mendiversifikasi produk dan menargetkan niche market dengan menawarkan TV premium bagi yang masih menginginkannya.

Panasonic juga bisa mendapat revenue dalam jumlah signifikan dengan menjual gelas plasma ke perusahaan lain termasuk JVC dan Fujitsu. Upaya ini akan membuat plasma Panasonic bisa bertahan lebih lama.

Setelah Pioneer hengkang, Panasonic akan mewarisi beban dari ekonomi sulit serta makin popularnya LCD. Saat plasma tidak lagi feasible secara ekonomi, LCD sudah mampu menandingi kualitas gambar plasma, termasuk teknologi contrast yang semakin mendekati LCD. Hanya masalah waktu saja, plasma akan hilang dari pasaran.

Sementara LG secara tegas akan mempertahankan bisnis plasma display panel (PDP) dan TV plasma. Sebagai anggota pendiri Plasma Display Coalition, LG yakin TV plasma merupakan segmen penting.

Selain itu berbeda dengan pemain plasma lain, LG memiliki kelebihan karena mengembangkan inti teknologi TV plasma dan modul PDP sendiri sehingga memiliki keunggulan unik di pasar.

Permintaan TV plasma masih tumbuh. LG menetapkan target menjual 3 juta TV plasma pada 2009 dan meraih 19% pasar TV plasma. LG akan fokus ke TV plasma 50 inci atau lebih besar yang peminatnya paling tinggi.

Untuk mencapai tujuan 2009 itu, LG mengenalkan TV plasma baru yang dilengkapi fitur tingkat tinggi semacam konektifitas bluetooth dan resolusi Full HD, serta desain frameless. LG juga memperluas hubungan baik dengan retailer premium untuk plasma TV. Perusahaan Korea itu juga meninggalkan proses produksi yang ketinggalan zaman.

Produsen TV plasma nasional, Polytron juga sudah menghentikan produksi TV plasma sejak tahun lalu. Promotion Manager PT Hartono Istana Teknologi, Santo Kadarusman mengatakan TV plasma lambat laun pasti akan tenggelan oleh TV LCD. "TV plasma Polytron sudah lama diberhentikan dan bergeser ke LCD 19-47 inci," katanya.

Santo mengatakan TV LCD memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan TV plasma. Kelebihan itu di antaranya kontras lebih baik, liquid mampu bertahan lima tahun, serta jika dilihat dari samping tetap jelas, berbeda dengan Plasma.

Ia menolak jika dikatakan rasio kontras TV LCD belum mampu setara dengan plasma. Kontras TV LCD bahkan lebih bagus dari TV plasma. "Contohnya kalau HDI dicolokkan ke LCD jauh lebih baik hasilnya jika dibandingkan TV plasma," katanya. [E1]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau akses mobile langsung http://M.inilah.com via ponsel dan Blackberry !