
INILAH.COM, Jakarta – Menyusul minimnya sentimen, saham PT Bumi Resources (BUMI), Kamis (2/7) diprediksikan bergerak mendatar. Investor cenderung wait and see akibat tipisnya transaksi di lantai bursa menjelang pengumuman BI rate. Rekomendasi untuk BUMI,'hold'.
Analis investasi PT GMT Aset Manajemen Nico Simatupang memprediksikan pergerakan saham BUMI hari ini cenderung bergerak mendatar (sideways) menyusul belum adanya sentimen baru dari aksi korporasi BUMI. Namun, secara teknikal saham sejuata umat ini masih berpeluang rebound tipis.
“BUMI bisa naik, tapi tidak akan melampaui level Rp 1.900. Sedangkan supportnya berada di Rp 1.800,” kata Nico kepada INILAH.COM di Jakarta.
Pada perdagangan Rabu (1/7) saham BUMI ditutup menguat 20 poin (1,07%) ke level Rp 1.880 per unitnya, dengan intraday antara Rp1.890 dan Rp 1.840. Volume transaksi mencapai 184,9 juta unit, senilai Rp 346 miliar dan frekuensi 3.810 kali.
Berikut ini wawancara INILAH.COM dengan Nico Simatupang:
Bagaimana pergerakan BUMI hari ini?
BUMI hari ini akan cenderung bergerak mendatar (sideways) akibat minimnya sentimen dari internal BUMI. Secara teknikal, memang emiten batubara ini masih berpeluang menguat namun terbatas, tidak akan melampaui level Rp 1.900. Sedangkan supportnya berada di Rp 1.800.
BUMI dalam jangka pendek masih akan bergerak flat, mengingat belum ada sentimen yang berpengaruh signifikan terhadap pergerakan sahamnya. Tapi saya meyakini untuk long term, saham BUMI akan menguat seiring tren naiknya harga batubara.
Kalau begitu, apa rekomendasi untuk BUMI?
Saya rekomendasikan hold untuk investor yang sudah memiliki saham BUMI. Namun, bagi pelaku pasar yang belum masuk, disarankan untuk menunggu perkembangan lebih lanjut. Saya tidak merekomendasikan trading karena range pergerakannya yang tipis.
Apa yang menjadi pertimbangan investor saat ini?
Investor masih menunggu pengumuman interest rate yang akan dikeluarkan Bank Indonesia pada Jumat (3/7) mendatang. Pasar berekspektasi, inflasi yang rendah membuka peluang BI rate dipangkas kembali. Pelaku pasar cenderung wait and see mencermati pengumuman BI rate sehingga volume transaksi BUMI menipis.
Namun, sentimen BI rate tidak banyak berimbas pada BUMI dan saham pertambangan lainnya. Hal ini terindikasi dari perdagangan beberapa hari terakhir, di mana pergerakan bursa didominasi sektor perbankan. Sedangkan sektor tambang cenderung stagnan.
Bagaimaan dengan harga minyak?
Harga minyak dunia saat ini, yang posisinya di level US$72 per barel, tidak banyak berimbas pada BUMI. Karena, kenaikan harga energi ini lebih diakibatkan faktor insidental. Berbeda bila kenaikan harga minyak disebabkan pulihnya ekonomi dunia. Bisa dikatakan ada kenaikan yang riil. Artinya, saham BUMI akan menguat.
Demikian pula saham-saham tambang lainnya. Tingginya harga minyak hingga sempat menyentuh level US$ 73 per barel tidak berlangsung lama. Harga komoditas ini akan segera kembali ke harga normalnya. Saat itu, spekulan akan keluar lebih dulu sehingga harga minyak anjlok. Hal serupa terjadi dengan spekulan yang bermain di saham BUMI. [E2]
- Bayu Aji
BUMI Menguat Perlahan Tapi Pasti - Ukie Jaya Mahendra
Faktor Pajak, Tak Jadi Hambatan BUMI - Willy Sanjaya
Transaksi Tipis, BUMI Tetap Naik - Irwan Ibrahim
Asing Bertahap Akumulasi BUMI - Willy Sanjaya
BUMI Menuju Rp3.200 Hingga Juni - Gina Novrina Nasution
BUMI Menguji Level ‘Resistance’ Rp2.600 - Ukie Jaya Mahendra
BUMI Akan ‘Rally’ - Irwan Ibrahim
Target BUMI Rp3.200 Akhir Maret Ini - Willy Sanjaya
Valuasi BUMI Masih Sangat Murah - Arga Paradita Sutiono
Asing Mulai ‘Net Buy’ di BUMI - Gina Novrina Nasution
BUMI ‘Oversold’, Siap Menanjak - Ukie Jaya Mahendra
Pemakzulan Tak Tekan BUMI - Irwan Ibrahim
Pemakzulan SBY Picu BUMI Konsolidasi - Nugroho Setiadarma
Ekspansi dengan Investasi Termahal - Veronica Tjong
Pancious, Hanya Berbekal Hobi Makan
Kurs BI :












