INILAH.COM, Jakarta Prediksi ambil untung pada PT Bumi Resources (BUMI) akhir pekan lalu, ternyata meleset. Meski terkoreksi terbatas, emiten tambang ini diprediksi masih akan melesat pekan ini. Investor pun disarankan mengantisipasi lonjakan BUMI dan mulai mengkoleksinya.
Pengamat pasar modal, Dandossi Matram mengatakan, membubungnya harga saham BUMI saat ini sudah mulai sulit ditahan. Selain karena sudah anjlok terlalu dalam, fundamental perseroan masih dalam kondisi baik. Hal ini ditunjang sentimen positif bursa global dan regional, serta ekspektasi pemulihan ekonomi.
Lebih lanjut Dandossi memprediksi harga saham BUMI dua bulan mendatang akan menyentuh level Rp2000. Ia pun menyarankan investor untuk mengantisipasi lonjakan dengan mengkoleksi saham primadona ini.
"Semua orang di pasar tahu bahwa BUMI saat ini sudah mulai rebound dan akan rugi jika melepas saham yang harganya murah seperti BUMI. Jadi, lebih baik ditahan saja," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta
Sepekan kemarin, BUMI melesat hingga 26,5% dari level Rp940 per unitnya. Sedangkan akhir pekan lalu, BUMI ditransaksikan menguat 60 poin (5,3%) pada level Rp 1.190, dan sempat menyentuh level tertinggi di angka Rp 1.210. Emiten ini pun menjadi saham teraktif yang diperdagangkan di bursa.
Berikut ini petikan lengkap wawancaranya.
Bursa saham Indonesia pekan lalu terus melesat tanpa adanya koreksi. BUMI pun mencatatkan kenaikan signifikan. Bagaimana peluangnya pekan ini?
Laju kenaikan IHSG akan lebih panjang daripada profit taking. Akibatnya, kenaikan saham BUMI susah untuk ditahan. Bahkan, BUMI akan bergerak naik terus sepekan ini. Kalau hari ini ada penurunan, hanya akan terjadi sejenak. Mungkin Selasa saham BUMI akan kembali melaju. Tapi menurut saya tidak akan ada aksi profit taking.
Sebelumnya BUMI harganya jatuh besar dari Rp 8.000 ke Rp 400-an. Itu kejatuhan terbesar sebuah saham di bursa kita. Jadi, saat krisis berat, BUMI merupakan saham yang paling terpuruk dibanding saham lain. Yang kedua, kinerja BUMI masih baik-baik saja. Ketiga, harga saham yang murah sudah tidak ada lagi karena secara average sudah di atas 700-an. Dengan faktor itu, indeks global dan domestik mulai bergerak kencang. Yang keempat, kecenderungan BI rate turun terus menunjukkan kecenderungan perbaikan ekonomi.
Berapa kisaran harga BUMI?
Saham BUMI susah ditebak. Yang pasti, sepekan ini saham BUMI akan bergerak naik terus. Kalau melihat spekulasi, kenaikannya masih bisa cukup tinggi. Artinya, kenaikan 10% hingga 20% dalam sepekan ini masih bisa terjadi secara net. Pergerakan saham BUMI dalam sebulan, dua bulan ke depan akan bergerak ke harga 2000. Jadi orang masih akan memburu saham itu dan sebagian orang yang sudah membeli akan menahan untuk tidak menjualnya.
Bagaimana dengan profit taking setelah kenaikan pesat akhir pekan lalu?
Kalaupun ada profit taking, hanya akan terjadi sejenak. Hanya terjadi dalam perdagangan sehari dari harga tertingginya. Profit taking mungkin terjadi, tapi peluang BUMI sebenarnya menguat terus. Profit taking tidak akan kuat melawan pasar yang sangat spekulatif. Sehingga, peluang ambil untung lebih kecil dari kenaikan indeks. Orang cenderung memegang saham ketimbang melepas. Artinya investor lebih orientasi jangka panjang. Lebih berat menjual saham. Semua orang tahu BUMI saat ini mulai rebound, sehingga rugi melepas saham yang harganya murah seperti BUMI. Jadi, lebih baik ditahan.
Apa rekomendasi anda ?
Saya tidak merekomendasikan trading. Saya rekomendasikan beli dan simpan. Karena, setelah profit taking, jangan-jangan harganya tidak turun tapi malah naik lagi. Seperti pekan lalu. Kalau beli, akan saya tahan satu hingga tiga tahun. Tidak dijual karena tidak akan turun. Nanti mungkin saya jual di harga Rp 3 ribu-Rp 4 ribu atau bahkan ditahan terus. Yang pasti tidak akan dijual dalam dua tahun ke depan. Karena saat itu, indeks mulai pulih setinggi-tingginya.
Ada prediksi, indeks akan anjlok pertengahan tahun termasuk BUMI, kemudian naik lagi. Anda sependapat?
Memang juru ramal mengatakan itu. Tapi saat ini trend bursa naik terus. Bagaimana mau anjlok bulan Juni. Kalau akhir Desember 2009 masih akan naik, kenapa harus jual pada bulan Juni. Kalau mau profit taking kenapa tidak akhir tahun saja. Kecuali kalau sudah senang dengan profit sekarang. Saya masih berharap lebih tinggi. Kalau akhir tahun saham BUMI hanya menyentuh level Rp1.500 dan tahun depan Rp3000, kenapa harus jual sekarang.
Kondisi terburuk saham-saham sudah mereda. Pasar modal itu ciri khasnya melihat ke depan. Yang dibeli adalah masa depan. Kalau hari ini keadaan ekonomi terburuk, setahun lagi ekonomi tidak akan buruk. Jadi, beli sekarang. Pasar modal membeli masa depan, membeli harapan dan bukan fakta. Orang pada prinsipnya beli saat murah dan jual saat mahal. Sekarang saham sedang murah-murahnya. Sudah dibuktikan, dari sebelumnya harga BUMI Rp 400, sekarang sudah 1.100. Hampir 150% kenaikannya. [E2]