INILAH.COM, Jakarta Muhammad Jusuf Kalla menunjukkan sikap kenegarawanan yang kuat. Dia legowo atas sikap SBY yang terkesan menyudutkannya di saat posisinya sulit dan terpojok. Dia membiarkan SBY mendendangkan talu.
Kalla, di tengah riuh rendah politik menjelang Pemilihan Presiden, masih punya opsi untuk mundur dari kursi Wapres RI sekarang dan pulang ke kampung halamannya dengan tenang. Sebagai orang tua, dia merasa telah menyerupai the victim of the victimized, korban yang harus dikorbankan.
Betapapun, di mata kubu Susilo Bambang Yudhyono dan Partai Demokrat, Kalla kini merasa sudah tak dibutuhkan lagi oleh sang pemenang pemilu legislatif itu. Padahal, duet mereka masih harus berlangsung sampai Oktober 2009.
Jika SBY masih respek dan empati kepada Kalla, tentunya SBY memanggil JK dan bicara empat mata mengenai kemungkinan dalam duet SBY-JK ke depan. Atau, jika SBY mau ganti pasangan karena mungkin sudah bosan, SBY bisa berbicara dengan santun empat mata. JK pun pasti legowo.
Perjumpaan dan perpisahan adalah alamiah sifatnya. Begitupun persatuan dan perceraian. Namun, jika dengan tindakan yang satu mempermalukan yang lain, maka slogan 'Bersama Kita Bisa' seakan berubah jadi 'Bersama Kita Luka'.
Bukannya bicara empat mata, SBY malah mengumumkan di hadapan pers, dengan mengajukan lima kriteria yang menimbulkan tafsir banyak orang. Ada yang mengartikan itu sebagai penolakan SBY atas JK. Lebih parah lagi, ada yang menilai hal itu sebagai tindakan mempermalukan wapresnya itu dengan cara budaya Jawa.
SBY memang tak menyebut terang-terangan. Tapi, pernyataan Ruhut Sitompul, politisi Partai Demokrat yang sekarang rajin bersuara dan berkoar, sudah terang benderang. Kalla tak diminati SBY karena dianggap tak memenuhi kriteria loyalitas.
"Selain pemerintahan yang kuat, kita ingin Golkar untuk membentuk parlemen yang kuat. Dengan catatan bukan ketua umum yang jadi cawapres SBY. Itu sudah kesepakatan Tim 9 dengan SBY," ujar Ruhut, anggota Tim 9 koalisi PD kepada INILAH.COM di Jakarta, Selasa (21/4).
Untuk itulah, Ruhut menyatakan, Demokrat tidak setuju bila Golkar hanya mengusulkan satu nama dan nama itu adalah JK. "Makanya, kita mau jangan satu nama. Apa lagi nama yang diusulkan itu tidak masuk kriteria loyalitas kepada presiden. Kita tidak mau ada dua nahkoda dalam satu kapal," katanya.
Dengan melihat JK terpukul akibat suara Golkar turun dalam Pemilu 2009, mestinya SBY justru empati dan menolong JK agar tak terjerembab ke dalam lubang kecundang. Bukan malah membuat sahabatnya itu jadi kian terpojok.
SBY sebagai satrio pinandito sesuai semboyan 'Bersama Kita Bisa', harus berjiwa besar dan memahami the other itu dengan bijak dan arif. Jika tidak, SBY bukanlah satrio pinandito, melainkan seperti yang digambarkan para pengamat kebudayaan Jawa yang sering melihat gaya SBY sejatinya seperti Pak Harto. Walah.
Ataukah SBY sudah berubah karena kubu Demokrat menang? Padahal menang Pemilu ibaratnya baru winning the battle, belum winning the war, baru menang pertempuran belum menang perang.
Kini ibaratnya, Kalla pun sudah sangat dilematis. Mau berkata-kata kepada SBY, khawatir disalah-pahami. Mau berbicara kepada seluruh elite Golkar, malah dicurigai dan dipersalahkan serta dihakimi sebagai sosok yang membuat Golkar kalah. Padahal, Golkar bisa saja tak kalah telak, jika DPT busuk tak merebak luas, jika Pemilu buruk tak terjadi.
Tapi, kini JK menjadi 'kambing hitam' di kalangan Golkar yang para politisinya kian liar, bukan kian nalar. Seakan-akan Kalla mesti dihakimi dan dijebloskan ke lubang kecundang.
Jika demikian, Kalla bisa saja meletakkan jabatan sebagai Wapres dan Ketua Umum DPP Partai Golkar. Pulang ke kampung halaman dengan kehormatan dan martabat sebagai anak manusia dari Indonesia Timur yang sudah berusaha membangun kembali negerinya dari reruntuhan krisis politik dan ekonomi.
Kalla, dengan seluruh kelebihan dan kekurangannya, adalah 'ayam jantan' dari Timur. Dia lebih memilih hancur demi martabatnya yang sudah dirobek dan dipermalukan oleh politik SBY.
"Kita khawatir jangan-jangan JK meletakkan jabatan sebagai Wapres karena dipermalukan SBY. Sungguh, jika itu terjadi, sebenarnya JK mau bilang, silakan saja ambil kursi saya. Dia legowo dan pulang kampung mengurus masjid dan cucu," kata Sukardi Hasan, peneliti senior The Freedom Foundation. [I4]