INILAH.COM, Jakarta - SBY hampir dipastikan tidak akan memilih JK menjadi cawapresnya lagi. Disebut-sebut, Golkar pun tengah menyiapkan skenario untuk meninggalkan SBY dan berpaling ke PDIP.
"Kalau seperti itu kita tidak masalah, kita tidak takut. Pada 2004 saja PDIP dengan Golkar sebagi pemenang pemilu kalah pada Pilpres. Bisa jadi terulang kembali di 2009. Bahkan lebih parah," katanya Ketua DPP Partai Demokrat Ruhut Sitompul kepada INILAH.COM di Jakarta, Selasa (21/4).
Ruhut yakin, soal Pilpres nanti Golkar akan terpecah dengan banyaknya kepentingan dan ambisi di internal Golkar. Selain itu, Golkar tidak pernah jadi oposisi.
"Pasti sebagian menginginkan tetap menjadi parpol pemerintahan. Golkar harus ingat, jangan tiru PDIP! Karena dalam presidensial tidak ada itu istilah oposisi. Itu ada karena pada 2004 PDIP tidak siap kalah," cetus Ruhut.
Dengan begitu menurutnya, bila Golkar menjadi oposisi maka dapat diartikan bahwa partai Beringin telah memposisikan diri sebagai parpol yang tidak siap kalah dan hanya siap menang. "Jadi itu yang musti dimengerti oleh kawan-kawan di Golkar. Saya hanya bisa bilang jangan sampai ambisi pribadi beberapa orang malah menghancurkan Golkar," pungkasnya.
Berdasarkan informasi, opsi bergabung dengan kubu Moncong Putih sedang dibahas secara intens di kalangan internal Beringin pada Senin malam, 20 April 2009. Bahkan, pilihan politik itu menjadi topik pembicaraan dalam dua rapat Golkar, baik di tingkat DPP maupun Dewan Penasihat.
Opsi tersebut muncul disebutkan karena pertemuan SBY-JK beberapa hari silam gagal membuat kesepakatan. Terlebih dalam pertemuan di Puri Cikeas, Bogor, itu dikabarkan tidak berlangsung 4 mata, melainkan ada 2 orang lain yang turut serta menyaksikan. [mut/ana]