INILAH.COM, Jakarta - Keinginan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi untuk melihat parpol berbasiskan santri bergabung menjadi satu ditanggapi dingin oleh PKNU. Selain menolak berfusi dengan PKB dan PPNUI, PKNU menilai keinginan itu mirip kebijakan mantan Presiden Soeharto di era orde baru.
"Soal gabung-menggabung sama dengan Pak Harto dulu. Jadi tidak perlu. Bisa kayak pak Harto menjadikan satu parpol," cetus Ketua Umum PKNU Choirul Anam yang dimintai tanggapannya oleh INILAH.COM di Jakarta, Selasa (21/4).
PKNU, tutur Anam, didirikan para kiai untuk mengembalikan perpolitikan kiai pada zaman yang berjuang bersama dengan kalangan nasionalis. Karena selama ini ada kecenderungan politik yang mengarah ke sekuler. "Jadi kita mendirikan partai bukan sekadar merebut kekuasaan dan bagi-bagi kursi," tukasnya.
Mantan politisi PKB ini juga meminta, NU harus benar-benar melihat mana partai yang betul-betul memperjuangkan visi dan misi organisasi NU. Sehingga tidak sekadar menggabungkan beberapa partai yang senafas.
"Kalau menurut saya terlalu cepat komentar. Kenapa tidak dulu-dulu, terlalu dini. Waktu konflik kenapa tidak ikut menyelesaikan. Jadi nggak usah komentar," ketus Anam.
Apalagi, lanjut dia, saat ini penghitungan KPU belum selesai. Sehingga belum diketahui partai mana yang tidak lolos parliamentary treshold (PT). Jadi, tegasnya lagi, imbauan Hasyim Muzadi agar partai NU yang tidak lolos PT bergabung menurutnya tidak tepat.
"Jadi tidak perlu ada imbauan karena belum waktunya. Nanti kalau waktunya sudah tepat. Komentar boleh saja. Kalau sudah selesai baru kita komentari," tandas Anam tanpa menjelaskan kapan waktu yang tepat tersebut. [jib/dil]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !