INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik terhadap berita mengenai penyebaran penyakit flu babi (swine influenza) pada manusia yang menimbulkan kematian di beberapa negara Amerika Utara.
"Di sana penyakit influenza akibat infeksi virus H1N1 itu terjadi saat musim gugur dan dingin, saat panas dia tidak bisa hidup. Di sini hampir panas terus, jadi mudah-mudahan tidak muncul. Di negara lain di Asia juga belum ada," kata Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari usai menghadiri rapat koordinasi soal antisipasi penyebaran flu babi di Kantor Kementrian Koordinator Kesejahteraan Rakyat Jakarta, Senin (27/4).
Menkes menjelaskan, tingkat kematian (case fatality rate/CFR) akibat penyakit itu hanya sekitar 6,4 persen, jauh lebih kecil dibanding tingkat kematian akibat flu burung yang hingga kini masih lebih dari 80 persen.
Meski kasus itu belum dilaporkan terjadi di Indonesia, Siti menegaskan, pemerintah sudah memiliki kapasitas memadai untuk mengantisipasi penyebaran virus influenza karena sejak penyakit flu burung merebak pada 2005 berbagai upaya sudah dilakukan untuk mencegah dan mengantisipasi kejadian luar biasa influenza.
Demikian juga dengan stok obat antivirus oseltamivir yang efektif untuk pengobatan flu burung dan penyakit influenza babi yang disebabkan oleh virus influenza tipe A subtipe H1N1. Menkes menyebutkan saat ini pemerintah memiliki sekitar lima juta dosis oseltamivir yang tiga juta di antaranya dibeli dengan dana APBN dan sisanya diperoleh dari bantuan internasional. [*/dil]