INILAH.COM, Jakarta Di tengah sikapnya yang bijak, mawas, dan menahan diri, Hatta Rajasa mengambil langkah besar. Dia mencoba memperbaiki hubungan dua pemimpin bangsa. Hatta menjelma menjadi Hatta sesungguhnya.
Sikap merendah dalam melangkah di panggung politik itu, bahkan sudah dilakukan lelaki asal Palembang itu sejak namanya pertama kali diapungkan pendiri Partai Amanat Nasional, Amien Rais, sebagai cawapres bagi Susilo Bambang Yudhoyono. Dia menjadi calon kuat menggantikan Jusuf Kalla, wapres SBY saat ini.
Hatta mengingatkan banyak orang kepada nama Bung Hatta, sang proklamator. Dia seperti menuruti keinginan kakeknya dulu. Sang kakeklah yang memberinya nama Hatta, merujuk kepada wapres pertama republik ini. Ayahnya memberi nama dia Rajasa.
Keluarga Hatta Rajasa adalah pengagum Bung Karno dan Bung Hatta. Namun karena merasa bukan orang Jawa, nama Hatta yang dipilih oleh ayah dan kakek Menteri Sekretaris Negara itu. Hatta kini merupakan kandidat cawapres SBY terkuat, di samping nama-nama lain seperti Boediono dan Akbar Tanjung.
Hatta adalah pesona Islam modern. Dia lahir dari keluarga santeri. Sejak mahasiswa di ITB, dia menjadi aktivis HMI. Pribadinya tenang. Dia bisa berjam-jam menemani SBY bermain golf tanpa rasa canggung dan ewuh pakewuh. Ini semua justru karena Hatta ikhlas dan mengemban aspirasi rakyat lewat PAN yang dinilainya sebagai amanah dunia akhirat.
Hatta tak hendak berkomentar karena statusnya saat ini adalah seorang pembantu presiden dalam kapasitas sebagai Menteri Sekretaris Negara. Dia pun menyerahkan sepenuhnya hal itu kepada SBY. Hatta yang orang Sumatera itu mengesankan lebih Njawani ketimbang orang Jawa.
Sebagai menteri yang dekat dengan SBY, Hatta rupanya melihat betapa beban tak ringan kini dihadapi SBY dalam kapasitasnya sebagai calon presiden dari Partai Demokrat. Pernyataan Hatta bahwa dirinya tak bersedia, adalah bentuk bahwa dirinya tak ingin menambah beratnya beban SBY.
Di sisi lain, Jusuf Kalla belakangan ini tampak berubah. Pesona kenegarawanannya seakan diganggu oleh berbagai masalah. JK tergesa-gesa maju jadi cawapres Golkar tatkala masa tenggang dari KPU masih lama. Apalagi KPU sendiri belum menyelesaikan perhitungan suara pemilu legislatif.
JK-Wiranto baru tahap deklarasi capres-cawapres. Dan, itu belum final. Artinya, masih ada waktu bagi keduanya untuk merenung dan introspeksi diri agar tak terburu-buru nekad jadi capres-cawapres, tak terburu mendaftar di KPU.
Jika Megawati saja bisa berubah oleh pendekatan Hatta, sangat boleh jadi JK juga bisa berubah karena melihat perkembangan situasi antara Blok Cikeas dan Teuku Umar.
Masih cukup waktu. Di sini JK dan Golkar bisa bercermin dari Hatta yang tak terburu nafsu. Bagi JK, seorang negarawan yang berhasil menciptakan perdamaian di Aceh, Poso dan Ambon, alangkah baik dan bijak jika merenungkan kembali langkahnya selama ini sejak Rapimnasus Golkar mendorongnya jadi capres.
JK perlu menghitung cermat, apakah tetap maju jadi capres dengan Wiranto atau menarik diri dari pencalonan itu dan menjadi negarawan besar yang akan dikenang sepanjang zaman. "Sebab jika JK nekad maju capres, sementara internal Golkar tak mendukungnya atau hanya setengah-setengah, maka kebesaran JK sebagai negarawan bakal tergerus," kata pengamat politik Airlangga Pribadi dari Unair.
Bima Arya Sugiarto, pengamat politik dari Charta Politika, sependapat. "Masih ada waktu bagi JK menjadi negarawan dan tak harus maju sebagai capres hanya karena dorongan orang sekeliling di DPP Partai Golkar atau pertimbangan harga diri. Justru kalau JK memilih jadi negawaran dengan tak maju jadi capres, namanya bakal harum sebagai orang yang mementingkan bangsa ketimbang ambisi pribadi," katanya.
Belajar dari JK, belajar dari Hatta adalah suatu hal yang baik. Dinamika politik masih akan terus bergerak. Seyogianya para elit politik melihat semua itu dengan bijak. [Habis/I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !