INILAH.COM, Jakarta Pasar modal Indonesia dinilai merupakan bursa yang paling eksotis di mata asing. Buktinya, investor asing dalam beberapa hari terakhir cukup agresif bertransaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Mereka tidak mau kehilangan momentum.
Pengamat Pasar Modal, Dandossi Matram mengatakan, pada perdagangan kemarin investor asing sedemikian agresifnya melakukan perburuan saham-saham di bursa. Akibatnya, nilai transaksi sempat mencapai Rp 8 triliun. Perilaku asing seperti 'kalap' melakukan perburuan saham karena tidak mau kehilangan momentum.
Akibatnya, investor asing berani membeli saham pada harga berapapun. Perilaku ini, menurut prediksinya, akan terus berlanjut hingga setahun bahkan dua tahun ke depan. "Dalam setahun dua tahun ini tren indeks sedang up trend," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (8/5).
Pada perdagangan saham kemarin (7/5) IHSG ditutup menguat 30,516 poin (1,7%) menjadi 1.828,852 dengan nilai transaksi mencapai Rp 8 triliun. Penguatan dipimpin saham tambang dan perkebunan, seiring naiknya harga komoditas.
Lebih lanjut, Dandossi mengatakan yang membuat investor berani masuk bursa di harga berapapun karena mereka yakin puncak krisis sudah terlewati dan indeks sudah melampaui titik terendahnya.
Karena itu, indeks berbalik arah seiring bertambah kuatnya keyakinan investor. "Saya lihat asing sudah tidak keluar lagi dan berbondong-bondong mulai masuk kembali," tuturnya.
Derasnya aliran dana asing, menurut Dandossi, bisa memberikan manfaat bagi Indonesia dengan bertambahnya cadangan devisa. Pada saat yang sama, banyak investor yang malah keluar dari Thailand dan negara lainnya karena melihat stabilitas politik dan ekonomi. "Dengan pasar yang besar, Indonesia menjadi pilihan yang menarik ketimbang negara lainnya," ucapnya.
Sementara pasar lain, masih belum terlalu stabil. Dandossi mencontohkan pasar Jepang dan China yang bisa anjlok 2-3% dalam seminggu terakhir yang menunjukan pasar mereka sangat volatile. Sedangkan Indonesia, penurunannya tidak sebesar kenaikannya. "Kalaupun ada koreksi itu hanya koreksi teknikal biasa," imbuhnya.
Pola up trend di bursa saat ini, berdasarkan pengamatan Dandossi sama halnya seperti apa yang terjadi pada saat indeks mulai pulih di 2004 yang terus berlangsung hingga 2007 dan kemudian baru melemah pada 2008. "Jadi up trend yang terjadi sekarang masih akan terus berlangsung hingga 2011," tegasnya.
Penguatan bursa, menurut Dandossi berakar pada stabilnya politik dan kekuatan ekonomi Indonesia dibandingkan negara lainnya. Pengelolaan ekonomi sudah lebih terpercaya dengan pasar yang kuat dan besar. "Krisis saat ini justru menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai kondisi terbaik dibandingkan negara lainnya," imbuhnya.
Inilah yang membuat investor luar negeri tidak betah di negaranya dan menjadi investor asing di Indonesia. Indonesia, merupakan salah satu pilihan yang menarik selain China dan India. Asing bahkan menjadikan Indonesia sebagai pilihan utama. "Karena itu tidaklah heran dengan gelombang investor asing masuk ke brusa Indonesia," tuturnya.
Hingga akhir tahun, Dandossi yakin indeks sudah melewati angka 2.000 karena jika menakar berapa besar kenaikan indeks Indonesia tidaklah ada batasnya. "Karena yang membatasi adalah waktu. 2011 masih akan naik terus, menurut saya tidak ada batasnya. Tapi kalau level 2.000 akan lewat," imbuhnya.
Sentimen regional juga ikut berimbas positif terhadap bursa domestik. Seluruh dunia melihat, krisis ini segera akan berakhir karena arah pemulihannya sudah jelas. Di pasar modal, titik terendahnya sudah terlewati. "Ini yang membuat mereka berani melakukan investasi kembali," pungkasnya. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !