INILAH.COM, Yingxiu - Tak terasa setahun lalu, gempa berkekuatan 7,8 skala richter mengguncang Sichuan, China. Lebih dari 80 ribu penduduk tewas atau hilang dan 5 ribu di antaranya anak-anak sekolah. Bagaimana Negeri Tirai Bambu ini memulihkan diri?
Sebuah seremonial digelar pada Selasa (12/5) waktu setempat di Kota Yingxiu, Wenchuan, Provinsi Sichuan . Tampak para penjaga menempatkan sepuluh buket bunga di depan sebuah jam ukiran besar berwarna putih untuk menandakan waktu gempa. Presiden China Hu Jintai berdiri di antara buket-buket bunga, tepat di sebelah jam besar.
Perayaan ini merupakan inisiatif Komite Pusat Partai Komunis China (CPC) untuk korban bencana. Ratusan massa yang menghadiri seremonial itu langsung terdiam tepat pukul 14.28. Artinya, tepat setahun lalu gempa bumi menyerang wilayah itu.
Hu langsung beranjak ke podium dan menyampaikan belasungkawanya untuk semua korban, serta mereka yang rela menyerahkan nyawanya demi menolong sesama ketika melakukan penyelamatan. Ia berjalan menuju dinding kenangan dan menempatkan bunga krisan berwarna putih.
Berbalut jas gelap, Hu mengatakan China langsung meluncurkan rekonstruksi pasca bencana yang didasarkan pada prinsip untuk mengutamakan warga serta menghormati alam.
Menurut Hu, selama setahun belakangan banyak yang telah dicapai. Mulai dari membangun kembali rumah-rumah penduduk, hingga fasilitas publik seperti sekolah dan rumah sakit.
Demikian pula rekonstruksi industri, tempat-tempat bersejarah yang dilindungi negara, serta pemulihan lingkungan. "Usaha rekonstruksi pasca bencana telah mencapai kemajuan yang cukup penting. Para korban bencana kini sudah mulai melanjutkan kehidupannya masing-masing," tutur Hu dalam pidatonya.
Hu yakin pemerintahnya cukup sukses dalam sejumlah rekonstruksi penting. Misalnya rumah di daerah perkotaan dan pinggiran, juga sejumlah fasilitas publik. Restorasi dan rekonstruksi infrastruktur penting serta struktur ulang sektor industri. Perlindungan warisan sejarah dan budaya, serta restorasi lingkungan. Inilah, lanjut Hu, yang menjadi fokus pemerintah.
"Untuk itulah saya mengucapkan banyak terima kasih dan rasa hormat bagi mereka yang telah berpartisipasi dalam usaha rekonstruksi dan pemulihan. Siapa saja, baik sipil, militer, maupun komunitas internasional," imbuh Hu.
Bencana itu merupakan masa-masa yang sangat sulit bagi negara itu. Namun, mereka bisa melalui badai besar berkat kekuatan nasional yang meningkat sejak reformasi dan kebijakan terbuka 30 tahun lalu. Sejak itu, mereka memiliki fondasi materi yang kuat untuk mengatasi dampak bencana.
Beberapa hari menjelang peringatan setahun, pemerintah China mengeluarkan rilis korban bencana yang mendapat kecaman publik. Dari sekitar 87 ribu korban tewas dan hilang, bencana pada 12 Mei 2008 itu menelan 5.335 pelajar, baik yang tewas maupun yang hilang. Sekitar 9 ribunya adalah jumlah keseluruhan guru dan para pelajar
Banyaknya korban disebabkan struktur bangunan yang terlampau lemah. Beberapa orangtua murid langsung menuding korupsi pemerintah yang membuat gedung sekolah tersebut rapuh. Media lokal memperkirakan 14 ribu sekolah rusak, lebih dari setengahnya hancur total.
"Angka ini kami peroleh melalui metode yang sah dan dikumpulkan melalui berbagai lembaga pemerintah," ujar Kepala Diknas Provinsi Sichuan , Tu Wentao. Gempa membuat 546 pelajar lumpuh, belum termasuk data dari provinsi lain yang juga terkena dampaknya.
Kepala Komisi Reformasi dan Pembangunan Sichuan, Yu Jie, mengatakan pemerintah menanggapi dengan serius masalah gedung kolaps. "Saya pastikan, jika masalah akibat konstruksi memperparah dampak bencana, akan kami selidiki secara menyeluruh dan memberikan hukuman," ujarnya.
Akibat gempa itu, 3.340 sekolah harus dibangun kembali. Sejumlah kelompok aktivis HAM mengkritik pemerintah China yang seakan menyembunyikan masalah sekolah ini.
Pejabat pemerintah menutup akses ke reruntuhan sekolah, melarang liputan media dan memenjarakan aktivis yang menyelidiki masalah ini. Meski demikian, Hu menilai rekonstruksi China selama setahun belakangan berlangsung dengan cukup sukses. [E1]