inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Semen Bertahan di Masa Prihatin

Headline
inilah.com /Bayu Suta
Oleh: Asteria
Kamis, 14 Mei 2009 | 19:46 WIB
INILAH.COM, Jakarta Dampak krisis keuangan global semakin kencang terasa di sektor riil, terutama industri semen. Hal ini terlihat pada permintaan semen domestik kuartal pertama 2009, yang terpantau anjlok sebesar 5,8%. Industri semen mengalami masa prihatin.
Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Daniel Lavalle menuturkan,
permintaan semen domestik kuartal pertama 2009 turun 5,8%, sementara volume penjualan domestik perseroan turun sebesar -13,9% dari 2,9 juta ton menjadi 2,5 juta ton.
Turunnya permintaan semen nasional diikuti pelemahan penjualan semen domestik dan penjualan ekspor, seiring tidak kompetitifnya harga jual. "Harga sulit bersaing karena naiknya biaya produksi akibat tingginya harga pembelian batu bara," katanya dalam siaran persnya, Kamis (15/5).
Namun, Daniel mengaku telah mengantisipasi kemungkinan penurunan permintaan semen domestik. Yaitu dengan lebih seksama mengelola keuangan, mengontrol biaya dengan ketat dan menunda seluruh investasi yang dirasakan saat ini belum perlu dilakukan. "Hal ini untuk memberikan landasan bagi kegiatan operasi yang baik di 2009," imbuhnya.
Namun, imbas anjloknya permintaan, tidak bisa terhindarkan. Pada kuartal pertama ini, pangsa pasar perseroan turun menjadi 29,8% dibandingkan periode sama tahun lalu. Volume penjualan ekspor turun 75,8% menjadi 0,15 juta ton akibat persaingan ketat di seluruh dunia dan rendahnya permintaan. Sehingga, volume penjualan turun 24,8% menjadi 2,7 juta ton.
Pendapatan bersih tumbuh 6,5% menjadi Rp 2,187 triliun, sementara biaya produksi perseroan naik 25%, akibat tingginya biaya energi, seperti batubara. Namun, penurunan signifikan penjualan ekspor memberi kontribusi marjin lebih rendah, sehingga marjin laba kotor naik menjadi 46% atau sebesar Rp 1,009 triliun.
Sedangkan beban usaha turun 15,3% menjadi Rp 264 miliar karena rendahnya biaya logistik menyusul rendahnya volume harga bahan bakar dan tarif. Tak heran, laba usaha naik 35,6% menjadi Rp 745 miliar dan marjin laba usaha menguat menjadi 34%. EBITDA juga naik 25,2% menjadi Rp 874 miliar dan marjin EBITDA membaik menjadi 40%.
Depresiasi rupiah menyebabkan perseroan menanggung rugi kurs bersih Rp57 miliar dibandingkan laba kurs bersih sebesar Rp 12 miliar pada perode yang sama tahun sebelumnya. "Dengan demikian, laba bersih hanya tumbuh 32,7% menjadi Rp 503 miliar, di mana tahun sebelumnya Rp 379 miliar," paparnya.
Daniel berharap stimulus dari pemerintah atas beberapa proyek infrastruktur 2009 dapat membantu meningkatkan konsumsi semen kembali, berlanjut pada naiknya kinerja perseroan.
PT Indocement Tunggal Prakarsa adalah salah satu perusahaan semen besar di Indonesia yang memproduksi berbagai jenis semen dengan kapasitas produksi tahunan sebesar 17,1 juta ton.
Produksi itu dihasilkan dari operasi 12 pabrik secara terpadu, yang berlokasi di Citeureup, Bogor, Jawa Barat (9 pabrik), Palimanan, Cirebon, Jawa Barat (2 pabrik), dan Tarjun, Kotabaru, Kalimantan Selatan (1 pabrik).
Meskipun permintaan semen nasional merosot, PT Holcim Indonesia (SMCB) pada kuartal pertama 2009 masih mampu mencatatkan volume penjualan 1.503.000 ton, naik 7% termasuk ekspor. Angka penjualan Holcim Indonesia pun meningkat 27% menjadi Rp 1,122 triliun.
Mengenai kondisi pasar di Indonesia, Tim Mackay, Presiden Direktur Holcim Indonesia, mengatakan, saat ini muncul ketidakpastian di pasar yang terjadi hingga pemilu legislatif.
Namun, lanjutnya, upaya perseroan menunjukkan hasil yang menggembirakan di awal tahun. Hal ini didukung kuatnya merek Holcim di pasar serta kemampuan Perusahaan mendistribusikan produknya di sektor bahan bangunan dengan efektif.
"Kami percaya bahwa krisis ekonomi yang terjadi saat ini dapat dijadikan peluang untuk meluncurkan produk maupun layanan baru serta melakukan beberapa perbaikan yang sudah kami mulai tahun lalu," kata Tim Mackay.
Berbeda dengan PT Semen Gresik (SMGR) yang justru mencatatkan penurunan volume penjualan. Pada kuartal pertama 2009, volume penjualan turun 9,4% menjadi 8,272 juta ton untuk domestik dan 710,97 ribu ton ekspor.
"Kuartal II 2009 mungkin masih minus 3-4%. Tapi, semester dua 2009 masih akan ada pertumbuhan," kata Direktur Utama Semen Gresik Dwi Soetjipto. Namun ia optimistis, kinerja SMGR tahun ini akan lebih baik, dipicu peningkatan kinerja yang diharapkan berasal dari volume penjualan.
Terutama karena perusahaan menargetkan kenaikan produksi hingga satu juta ton. Menurutnya, beberapa kuartal mendatang permintaan semen akan naik seiring adanya stimulus infrastruktur dari pemerintah dan meningkatnya permintaan pembangunan proyek.
Saat ini SMGR menguasai pangsa pasar sebesar 44,4%. Selanjutnya adalah Indocement (INTP) sebesar 32% dan Holcim (SMCB) sebesar 14%. Dalam beberapa kuartal terakhir, industri semen akan mengalami masa sulit. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.