INILAH.COM, Warsawa - Suka menonton Republik Mimpi? Tayangan parodi politik ini ternyata tidak hanya dinikmati pemirsa Tanah Air, tapi sudah mulai dinikmati dunia internasional. Penampilan Si Butet Yogya (SBY) dan Jarwo Kwat (JK) mengundang minat dunia internasional.
Pakar komunikasi politik Effendi Gazali, Dedy Nur Hidayat, dan Pinckey Triputra mengikuti International TV Conference ke-32 yang tahun ini berlangsung di Warsawa, Polandia. Acara ini berlangsung sejak 10 Mei dan berakhir 14 Mei.
Dalam keterangan tertulis kepada INILAH.COM, Sabtu (16/5), Effendi menuturkan ada 2 topik menonjol pada konferensi tahun ini, yaitu 'Television in Public Interest' dan 'Televising Modern Society'. Konferensi ini juga memutar dan mendiskusikan program-program TV yang dianggap berpengaruh, inovatif, dan berkualitas dari seluruh dunia. Umumnya yang terpilih oleh para shopsteward (semacam juri) adalah program-program dari TV Publik yang memang lebih ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup publik.
Selama 32 tahun konferensi ini, program TV Indonesia baru pertama kali terpilih tahun ini. Republik Mimpi yang merupakan rangkaian perjalanan parodi politik ini diputar utuh 70 menit dan didiskusikan pada 12 Mei pukul 14.00-18.00 waktu setempat. Ratusan pengamat dan kritikus serta produser berikut artis-artis TV dari berbagai penjuru dunia terlibat diskusi yang seru dan sangat suportif.
Pada umumnya mereka meyakini program seperti Republik Mimpi akan meningkatkan political efficacy alias kemujaraban politik warga negara dan khususnya anak-anak muda. Hal tersebut diyakini oleh pengamat dari AS dan Eropa Barat. Sedangkan pemerhati TV dari Australia prihatin dengan peniruan acara Republik Mimpi tanpa izin alias copy cat, bahkan mereka mempertanyakan soal pelanggaran hak cipta di Indonesia. Hal tersebut menurut mereka akan menurunkan kualitas genre program ini karena dikerjakan seadanya.
Effendi pada kesempatan tersebut menghaturkan terima kasih pada berbagai stasiun TV di Tanah Air yang pernah memberi kesempatan Republik Mimpi tampil. Sambil bercanda, ia mengatakan, persoalan yang dihadapinya adalah warna bendera Indonesia dan Polandia memang terbalik. Bendera Indonesia merah di atas, putih di bawah. Sedangkan bendera Polandia kebalikannya.
"Sayangnya sampai saat ini di tempat kami program ini sering diterima dengan rasa khawatir oleh pemilik TV dan pemasang iklan. Lainnya memilih sinetron sepanjang hari. Atau ada juga yang mencuri hak cipta kami. Barulah di sini, pada konferensi di negara dengan bendera yang warnanya terbalik, akhirnya kami dapat pengakuan dan pujian internasional," ujar Effendi disambut senyum dan tepuk tangan seisi ruangan konferensi.
Selain Indonesia, program TV lain dari Asia yang terpilih untuk diputar dan didiskusikan tahun ini berasal dari Korea. Sertifikat internasional untuk Republik Mimpi bakal dipampang di Program Pascasarjana Komunikasi UI. [sss]