INILAH.COM, Serang - Kondisi Gunung Anak Krakatau kian mengkhawatirkan. Setelah mengalami erupsi letusan, kini suara dentumannya mencapai 52 kali. Hal itu terjadi sepanjang Sabtu sampai Minggu dini hari, yang terdengar hingga ke pantai Anyer dan Carita.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, Cahya, Minggu (17/5), mengaku bunyi dentuman tersebut karena tingginya frekuensi kegempaan vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Dentuman yang disertai lontaran batu pijar berwarna kemerah-merahan tersebut, sehingga membuat suasana gunung yang berada di Perairan Selat Sunda seperti kembang api. Sebelumnya pada Kamis 16 Mei lalu, dentuman suara Gunung Anak Kraktau hanya mencapai 24 kali.
"Dengan bertambahnya suara dentuman itu tentu aktivitas kegempaan Anak Krakatau meningkat," katanya.
Bahkan, menurut dia, sepanjang Sabtu ketinggian asap letusan Anak Krakatau mencapai 600 meter. Asap tersebut tampak jelas hingga di pesisir pantai Anyer dan Carita yang berjarak 42 kilometer.
Dijelaskan dia, sejak tanggal 6 Mei 2009, status anak gunung tersebut dinaikkan hingga level III dengan frekuensi kegempaan vulkanik yang terus meningkat. "Setiap hari kegempaan vulkanik Anak Krakatau antara 600 sampai 700 kali," ujarnya.
Oleh karena itu, lanjut dia, Gunung Anak Krakatau saat ini masih dalam koridor "siaga" atau level III. Sehingga siapapun tidak diperbolehkan mendekati kawasan gunung tersebut. Karena sangat membahayakan jika terkena lontaran batu pijar lava.
Selama ini, Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung memberikan rekomendasi radius tiga meter dari titik kawah Gunung Anak Krakatau. "Saya mengimbau nelayan maupun pengunjung dilarang mendekati Anak Krakatau karena masih dalam status siaga atau level III," ujarnya. [*/jib]