INILAH.COM, Jakarta - Duet SBY-Boediono merupakan pasangan capres dan cawapres yang paling banyak mendapat dukungan dari parpol. Saking banyaknya, ternyata tidaklah menguntungkan. Sebab SBY-Boediono akan direpotkan dengan negosiasi-negosiasi soal power sharing.
"Mendapat dukungan resmi dari banyak parpol itu tidak otomatis menguntungkan calon, bahkan akan jadi beban. Bebannya itu saat koalisi harus memberi sesuatu terutama soal kekuasaan. Memangnya tidak repot berkoordinasi dengan 23 partai?"
Demikian penilaian pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah, Bachtiar Effendy, kepada INILAH.COM di Jakarta, Senin (18/5).
Menurut Bachtiar, kerepotan yang pertama muncul dalam koalisi SBY-Boediono adalah saat pembentukan tim sukses untuk berkampanye pada Pilpres 2009. Yakni pada saat pembagian posisi pada struktural tim sukses pada tingkat pusat hingga daerah.
"Demokrat juga perlu hati-hati dengan janji-janji yang diberikan partai pendukung. Yang akan mati-matian kampanye itu hanya kader Demokrat, partai pendukung tidak akan militan malah akan merepotkan karena sebenarnya SBY itu bisa maju sendiri mendukung SBY-Boediono pada pilpres," katanya.
Bachtiar mengatakan, yang akan paling diuntungkan soal koalisi adalah pasangan JK-Wiranto. Karena pasangan itu yang hanya didukung oleh dua parpol. "Yang memperoleh dukungan sedikit itu lebih solid. Karena tidak banyak yang dikerjakan. JK hanya mendapat dukungan dari Hanura, dan itu akan lebih mudah mengkoordinasikannya," tutupnya. [mut/ton]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !