inovasi portal berita
Jumat, 10 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Blok Perubahan, Apa Lagi?

Headline
Rizal Ramli - inilah.com/Wirasatria
Oleh: Herdi Sahrasad
Kamis, 21 Mei 2009 | 17:29 WIB
INILAH.COM, Jakarta Tiga pasangan calon akan maju pada Pemilihan Presiden 2009. Tapi, tak ada nama Rizal Ramli di dalamnya. Toh, dia tak gusar. Rizal telah meninggalkan sesuatu di panggung demokrasi: kesalehan dalam berpolitik. Mau apalagi Blok Perubahan?
Berpolitik sebagai orang saleh ialah berpolitik demi kemanusiaan, memperjuangkan gagasan, pemikiran, dan nilai-nilai humanitas. Tak lagi mengejar kekuasaan, namun mendorong semua pemimpin untuk berlomba melakukan kebajikan, saling koreksi, saling mengingatkan.
Setelah gagal menjadi capres, Rizal mengaku tetap merasa bahagia. Spirit intelektualismenya terus menyala. Apalagi setelah dia merasakan penolakan terhadap paham neoliberalisme yang diembuskan Blok Perubahan terus meluas menjadi isu krusial dan penting di ruang publik dalam pertarungan Pilpres 2009.
Rizal ingin mengingatkan semua capres-wapres bahwa Proklamasi 1945 sejatinya dijiwai spirit kemerdekaan badan dan jiwa dalam menentang neokolonialisme-neoliberalisme. Rizal bukan anti modal asing. Modal asing diperlukan sepanjang bangsa ini mengendalikan dan mengaturnya untuk kesejahteraan dan keadilan sosial.
"Soekarno, Hatta, Sjahrir, Natsir dan para Bapak Bangsa tak anti modal asing. Tapi, harus kita yang mengatur, mengendalikan, dan melakukan tata kelola yang baik bagi kesejahteraan rakyat," tutur mantan Menko Perekonomian itu.
Dia meyakini, Blok Perubahan adalah blok politik orang saleh yang harus berfokus pada kontribusi gagasan, pemikiran dan nilai-nilai bagi peradaban dan kemanusiaan.
Prof Abdul Munir Mulkan, anggota Komnas HAM dan guru besar UIN Sunan Kalijaga menyatakan, berpolitik sebagai orang saleh ialah berpolitik demi kemanusiaan yang dalam ajaran Islam bisa dikenali dari risalah kenabian Muhammad SAW. Idealitas kekuasaan yang ingin dicapai dan diwujudkan ialah kekuasaan yang diabdikan bagi sebesar-besarnya kemakmuran dan keadilan rakyat warga negara.
Dalam hal ini, Rizal Ramli melihat pasal 33 UUD 1945 dan Pancasila adalah sublimasi dari ideologi kemanusiaan itu sendiri. Semua ini mendasari gerakannya yang bertumpu pada jiwa dan spirit ekonomi kerakyatan atau ekonomi konstitusi.
Sebagai seorang nasionalis dan aktivis yang menyatakan memeluk Islam, Rizal melihat pilihan terbaiknya adalah pemihakan pada politik kemanusiaan tersebut. Sehingga ia bersikap tegar untuk memperjuangkan gagasan, pemikiran, dan nilai-nilai kemanusiaan, tanpa berlomba lagi di arena pertarungan presiden tahun ini.
Rizal menyadari bahwa pudarnya fungsi ideologi kemanusiaan menjadi faktor penentu hancurnya basis moral yang seharusnya menyinari setiap perilaku politik negeri ini. Dia melihat banyak politisi yang menjadikan politik sebagai pekerjaan. Partai layaknya lapak kuasa atau lapak dagang sapi, dengan tujuan utama mencari keuntungan materi dan kehormatan kedudukan.
"Harus pula kita ingatkan bahwa hancurnya basis moral kemanusiaan tersebut menyebabkan kegiatan politik kehilangan arah serta mudah terperangkap jebakan konflik dan perebutan kekuasaan," kata Abdul Munir Mulkan.
Rizal bermaksud mengingatkan semua elite dan capres-wapres bahwa rakyat kini menginginkan politik yang luhur dan berakal budi. "Alhamdulillah, kampanye kami tentang dampak negatif dari neoliberalisme berhasil dipahami masyoritas rakyat," kata Rizal di Rumah Perubahan, Jakarta Selatan.
Kepada para jurnalis, eksponen ITB yang didampingi Marijani, sang istri, dan Jubir Blok Perubahan Adhie Massardi, mencoba menguraikan salah satu indikasi keberhasilan kampanye Blok Perubahan adalah tiga pasangan capres-cawapres mengusung tema ekonomi kerakyatan. Isu itu merupakan kebalikan dari paham neoliberalisme yang menyandarkan pembangunan pada utang dan mekanisme pasar bebas. Bahkan, sering menggadaikan undang-undang untuk mengakomodasi kepentingan asing.
Meski begitu, imbuh Rizal, tidak semua pasangan sungguh-sungguh berpihak pada ekonomi rakyat dan antineolib. Ada yang hipokrit dan palsu, ada pula yang setengah hati, dan ada yang sungguh-sungguh, tapi belum begitu paham dan belum mengerti secara hakiki. "Kita harus berani mengingatkan dan mengoreksi mereka," ujarnya seraya menambahkan itulah politik kesalehan yang mengundang risiko tak disukai pihak yang dikritisi.
Mantan Menko Perekonomian di era Presiden KH Abdurrahman Wahid tersebut menegaskan, Blok Perubahan akan memainkan peran aktifnya. "Kami akan memilah dan mengoreksi mana yang palsu dan memakai isu ini hanya untuk memenangkan pemilu," tegasnya.
Karena itu, jaringan keanggotaan Blok Perubahan akan diperluas. Bila sebelumnya hanya tokoh-tokoh parpol, kini cakupannya termasuk mahasiswa, tokoh-tokoh masyarakat, aktivis LSM, dan beragam profesi lain yang properubahan. [I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.