INILAH.COM, Jakarta - Politik Jawa-luar Jawa saat ini sedikit dihiraukan oleh pasangan capres-cawapres. Dari 3 pasangan, hanya duet JK-Wiranto yang merupakan perpaduan Jawa-luar Jawa. Pasangan nusantara itu diharapkan dapat membawa keadilan distribusi ekonomi.
"Sesungguhnya politik Jawa-luar Jawa itu kalau terus dibiarkan akan bahaya. Tapi selama ini, daerah luar Jawa itu pembangunannya kurang diperhatikan. Kalau pembangunan sudah adil dan merata, baru bisa hilang itu politik Jawa-luar Jawa," ujar mantan Ketua PP Muhammadiyah Syafi'i Maarif kepada INILAH.COM di Jakarta, Jumat (22/5).
Menurut pria yang akrab disapa Buya ini, pasangan yang mengakomodir komposisi Jawa dan luar Jawa akan cenderung lebih memiliki keadilan dalam distribusi ekonomi dan pembangunan. Sebab selama ini yang tidak dihiraukan oleh para pemimpin bangsa itu adalah masalah keadilan dan pemerataan pembangunan ekonomi antara wilayah Jawa dan luar Jawa.
"Kita sudah berdarah-darah soal ketidakadilan itu. Tapi kalau soal capres-cawapres menurut saya tidak hanya sekadar harus pasangan nusantara, itu hanya pertimbangan keterwakilan saja, asal jangan itu mengorbankan nasionalisme sempit. Yang harus dilihat itu adalah kualitas dan tingkat populismenya," katanya.
Buya mengatakan, selama 63 tahun Indonesia merdeka, baru Habibie yang menjadi presiden dari luar Jawa. "Tapi itu kan tidak dipilih langsung, kalau dipilih langsung kan lebih bagus. Bagi saya, siapapun presidennya kalau dari luar Jawa kualitasnya bagus kenapa tidak. Kebetulan juga pasangan itu (JK Win) bagus," imbuhnya. [mut/ana]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !