Minggu, 27 Mei 2012 | 05:49 WIB
Follow Us: Facebook twitter
BUMI Bergerak Stabil, 'Hold'!
Headline
inilah.com /Raya Abdullah
Oleh: Ahmad Munjin
web - Jumat, 22 Mei 2009 | 12:59 WIB
INILAH.COM, Jakarta Saham PT Bumi Resources (BUMI) Jumat (22/5) diprediksikan stabil akibat market yang netral. Di bursa terjadi tarik menarik sentimen negatif bursa global dengan penguatan rupiah. Investor pun direkomendasikan hold BUMI.
Pengamat pasar modal, Dandossi Matram memprediksikan pergerakan BUMI akan stabil di atas Rp 2.000 per lembar. Namun, pada sesi petama BUMI akan terkoreksi terlebih dahulu. Pasalnya, beberpa investor masih terpengaruh penurunan indeks yang terjadi secara global maupun regional.
"Tapi pada sesi siang BUMI akan pulih lagi di atas Rp 2.000," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (22/5). Pada pukul 10:20, saham BUMI ditransaksikan melemah 25 poin (1,21%) ke angka Rp 2.025 dibandingkan posisi sebelumnya di Rp 2.050.
Lebih lanjut, Dandossi mengatakan karena pergerakan market yang netral, volatilitas harga saham BUMI akan tipis. "Naik turunnya tidak akan besar, tidak akan lebih besar dari 1% kenaikan dan penurunannya," ujarnya.
Dandossi merekomendasikan hold untuk BUMI dan tidak untuk trading. "Dalam kondisi sekarang hold kemudian simpan dan akumulasi untuk jangka panjang. Jangan dijual," paparnya.
Pergerakan market yang netral, terjadi akibat tarik menarik antara sentimen negatif bursa global dengan sentimen positif dari penguatan rupiah. "Tarik menarik itu tampaknya akan membuat bursa Indonesia netral," tandasnya.
Sekarang, lanjut Dandossi, tinggal bagaimana persepsi investor apakah lebih dominan ke arah negatif atau positif. Namun demikian, di sisi lain pergerakan indeks juga banyak dipengaruhi saham-saham Bakrie. Sementara saham Bakrie sendiri pada penutupan kemarin cenderung lebih stabil.
"Ini juga yang menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung stabil. Pergerakannya tidak akan jauh dari level 1.885. Apakah hari ini sudah bisa menembus 1.900 saya tidak tahu," ungkapnya.
Penurunan indeks baik yang terjadi di Amerika maupun di Eropa seharusnya membuat penurunan bagi indeks domestik. Hal ini disebabkan meningkatnya tingkat pengangguran di AS yang sebetulnya menunjukkan masih bermasalahnya ekonomi di negara adidaya itu.
Selain itu, rating yang dikeluarkan S&P 500 mengenai keuangan Inggris yang turun dari stabil menjadi negatif. Ini yang dikhawatirkan investor akan terjadi di Amerika yang sama-sama membelanjakan dana sangat besar untuk program bail out. "Ini kemudian disusul terjadinya pelemahan dolar terhadap mata uang kuat lainnya," ucapnya.
Sisi positifnya, Indonesia akan mendapat manfaat dari penguatan rupiah terhadap dolar. Pasalnya, penguatan rupiah tentunya akan lebih meyakinkan Bank Indonesia untuk menurunkan kembali BI rate yang juga akan mendorong perbankan menurunkan tingkat suku bunga lagi. "Ini akan menjadi sentimen positif bagi bursa kita," imbuhnya.
Mengenai pengaruh kenaikan harga minyak dunia yang sudah mencapai level US$ 62 per barel terhadap BUMI dan saham komoditas lainnya, Dandossi mengatakan seharusnya menjadi sentimen positif.
"Hanya saja, karena ada kekhawatiran koreksi indeks di bursa global dan regional, akan menahan kenaikan harga-harga saham komoditas," tandasnya. Sentimen positif dari pergerakan harga minyak menurutnya akan terefleksi pekan depan. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.