INILAH.COM, Jakarta - Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla jangan terlalu berharap mendapatkan dukungan bulat dari para kiai. Kepentingan yang berbeda-beda membuat dukungan antar kiai pecah.
"Tidak berpengaruh signifikan. Saya lihat kepentingan para kiai sangat beragam sehingga sulit menyatukan kyai dan pemilih," kata pengamat politik UI Abdur Gafur Sangaji kepada INILAH.COM, Jakarta, Jumat (22/5).
Sebelumnya, seakan tidak mau kalah dengan JK, SBY bertemu dengan sejumlah kyai di Jawa Timur, Jumat (22/5). Beberapa di antaranya yang hadir adalah Idris Marzuki dari pesantren Nirboyo Kediri, Ahmad Subadar dari pesantren Besuk Pasuruan dan Anwar Iskandar dari pesantren Kediri.
"Semua capres memanfaatkan kiai yang mempunyai simpul-simpul suara. Tidak hanya SBY, JK juga mendatangi Hasyim Muzadi dan mendatangi kiai di Jatim juga. saya kira memang pengaruh kiai masih cukup signifikan untuk menggerakkan basis massa tradisionalnya," tandasnya.
Longgarnya ikatan dengan jamaah, ujar Sangaji, membuat referensi politik masyarakat sudah terlalu terpaku kepada anjuran atau instruksi kiai. Selain itu, pola komunikasi yang dilakukan hanya sekadar silahturahmi. Komunikasi yang terjalin hanya searah di tingkat elit saja.
"Meski SBY menang di pemilu legislatif ini di Jatim, JK juga mempunyai dukungan yang kuat dari Muhammadiyah dan NU. Situasi politik berubah cepat dipengaruhi komunikasi tradisional. Harus punya citra politik yang positif dan mendatangi basis-basis massa tidak hanya kiai," tandasnya. [bar/ana]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !