Senin, 28 Mei 2012 | 17:13 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Pendukung SBY: Kwik Lebih Neolib
Headline
Kwik Kian Gie
Oleh: Djibril Muhammad
web - Sabtu, 23 Mei 2009 | 08:16 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Tantangan berdebat soal Neolib ditujukan ke Boediono oleh mantan Kepala Bappenas Kwik Kian Gie dibalas dengan kritikan. Seharusnya Kwik berkaca diri antara Boediono dan dirinya siapa yang lebih neolib.

"Dalam definisi Kwik, justru dialah yang neolib. Di jaman Kwik menjadi ketua Bapenas hutang tak berkurang. Justru faktanya Tim ekonomi sekarang lebih mampu menurunkan hutang," cetus anggota Tim Sukses SBY-Boediono, Andi Arif kepada INILAH.COM di Jakarta, Sabtu (22/5).

Jangankan akan mengurangi dan melunasi, menurut Komisari PT POS Indonesia ini, Kwik tak sedikitpun berpikir untuk lepas dari jeratan IMF. Selain itu, ketika menjabat sebagai Kepala Bappenas, tutur Andi, tidak ada sedikitpun program yang menyentuh rakyat kecil.

"Alias makan gaji buta dalam bahasa kasarnya karena tidak mampu membangun kreatifitas. Kwik hanyalah bertipe birokrat ketimbang ekomom ketika memimpin Bappenas. Sebagai orang yg pernah gagal, seharusnya KWIK tidak layak berkomentar," jelas mantan Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) ini.

Apa lagi, dijelaskan dia, tim ekonomi di bawah Boediono mencatatkan sejarah. Yakni Indonesia menjadi salah satu dari tiga negara yang pertumbuhannya positif di saat krisis. Bahkan masih mampu memberi stimulus dan program pro rakyat tetap berjalan.

"Lagi pula apa sih Kwik berani menghubungkan hutang dan neolib. Sehingga kwik berani menyimpulkan banyaknya hutang identik dengan neolib. Memangnya Negara induk neolib tidak memiliki hutang? Amerika Serikat hutangnya paling besar sedunia," terangnya.

Penyebab Indonesia bisa bertahan dalam krisis sekarang ini, lanjutnya, justru karena rasio utang menurun. Gross Domestik Produk (GDP) rasio Indonesia turun dari 80% di tahun 2004 menjadi 30% saat ini.

"Jadi kalau Kwik ingin berdebat dengan Boediono, dari segi apapun tak ada celah bagi Kwik untuk bisa membuktikan bahwa dia lebih mengerti ekonomi jika ukurannya adalah hasil kerja ketika menjabat," pungkasnya. [jib]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.