INILAH.COM, Jakarta - Deklarasi pasangan Megawati Soekarnoputri dengan Prabowo Subianto di tempat yang tak biasa, bukan dimaksudkan untuk mengeksploitasi kemiskinan. Juga bukan sebagai penghapusan dosa-dosa Megawati di masa pemerintahannya dulu kala.
"Saya kira tidak demikian. Apa yang dilakukan besok itu buka sebagai penghapusan dosa, atau mengklarifikasi apapun," tangkis tim kampanye Mega-Prabowo Sjukrianto Yulia usai diskusi 'Antara neolib dan ekonomi rakyat' di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (23/5).
Tak ada yang harus dijelaskan kepada masyarakat, atau bahkan bermaksud untuk meminta rakyat menghapuskan dosa-dosa Mega terdahulu karena dulu pada era kekuasaan Mega, ia banyak menjual aset penting negara. Hal itu dibantah mentah-mentah oleh Sjukrianto.
"Waktu zaman Bu Mega, itu bukan menjual aset-aset karena itu ada kebutuhan yang mendesak yang disampaikan oleh tim di bawah Bu Mega untuk memenuhi kebutuhan APBN," imbuhnya.
Ia menilai deklarasi yang akan digelar pada Minggu 24 Mei di Bantargebang, Bekasi itu lebih mengangkat pada realitas yang ada, bahwa sebetulnya kondisi kemiskinan masih merajalela. Deklarasi Mega-Prabowo juga ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa yang terjadi 5 tahun kebelakang itu makin buruk.
"Masih banyak kemiskinan yang terjadi. Kalau yang disampaikan oleh rezim yang sekarang bahawa ada pertumbuhan ekonomi yang sedimikian rupa itu hanya akrobatik angka-angka menafikkan fakta-fakta yang ada, kita ingin menunjukkan relitas yang ada," pungkasnya. [ikl/ana]